Dekade 1990-an sering disebut sebagai salah satu masa keemasan sinema Hong Kong. Di tengah kekuasaan movie laga karya John Woo, Tsui Hark, hingga Jackie Chan, industri movie Hong Kong juga menghasilkan sederet movie romantis nan mempunyai identitas kuat. Berbeda dengan romansa Hollywood nan condong mengedepankan akhir bahagia, film-film Hong Kong era ini justru lebih berkawan dengan kesepian, perpisahan, penyesalan, dan cinta nan datang di waktu nan salah.
Lanskap kota Hong Kong dengan lampu neon, gang-gang sempit, apartemen kecil, restoran sederhana, hingga jalanan nan diguyur hujan menjadi latar nan memperkuat atmosfer romantis sekaligus melankolis. Didukung sinematografi nan ekspresif, musik nan menghantui, dan akting para bintang seperti Maggie Cheung, Leslie Cheung, Tony Leung Chiu-wai, Anita Yuen, hingga Leon Lai, film-film ini sukses meninggalkan jejak nan terus memengaruhi sineas dunia.

1. Comrades: Almost a Love Story (1996)
Li Xiao-jun dan Qiao Li berasal dari Tiongkok daratan dan datang ke Hong Kong dengan angan mendapatkan kehidupan nan lebih baik. Mereka berjumpa sebagai sesama perantau dan perlahan saling jatuh cinta. Namun kehidupan membawa mereka ke arah nan berbeda, sementara waktu terus menguji apakah cinta saja cukup untuk menyatukan dua orang.
Disutradarai Peter Chan, movie ini sering dianggap sebagai movie romantis Hong Kong terbaik sepanjang masa. Chemistry luar biasa antara Maggie Cheung dan Leon Lai menghasilkan kisah cinta nan terasa sangat manusiawi. Romansa, nostalgia, dan perubahan sosial Hong Kong berpadu menjadi satu dalam karya nan menyentuh dan tak lekang oleh waktu.

2. Chungking Express (1994)
Film ini menghadirkan dua kisah cinta nan berbeda. Seorang polisi berupaya melupakan mantan kekasihnya, sementara polisi lain tanpa sadar menjadi objek perhatian seorang pegawai warung makanan sigap saji nan diam-diam masuk ke apartemennya dan mengubah hidupnya sedikit demi sedikit.
Karya Wong Kar-wai ini adalah arti romansa urban. Dengan sinematografi ikonik Christopher Doyle, lagu “California Dreamin'” nan terus terngiang, dan ritme penceritaan nan puitis, Chungking Express menjadi salah satu movie paling berpengaruh dalam sejarah sinema modern.
3. Fallen Angels (1995)
Seorang pembunuh penghasilan mau pensiun, sementara wanita nan selama ini mengatur pekerjaannya diam-diam jatuh cinta kepadanya. Di sisi lain, seorang pemuda bisu menjalani hidup dengan langkah nan sama tidak lazimnya.
Jika Chungking Express berbincang tentang harapan, Fallen Angels berbincang tentang kesepian. Film ini memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu datang untuk menyatukan dua orang. Visual neon nan memukau dan penggunaan lensa lebar menjadikannya salah satu movie paling bergaya pada dasawarsa 1990-an.
4. C’est la vie, mon chéri (1993)
Kit dan Min berjumpa secara tidak sengaja dan jatuh cinta. Kebahagiaan mereka terusik ketika Min didiagnosis menderita penyakit serius nan membikin masa depan mereka menjadi tidak pasti.
Film ini menjadi salah satu melodrama Hong Kong paling emosional pada era 1990-an. Penampilan Anita Yuen dan Tony Leung Ka-fai sukses menghadirkan kisah cinta nan sederhana, tetapi menghancurkan hati.
5. The Lovers (1994)
Zhu Yingtai menyamar sebagai laki-laki agar dapat menempuh pendidikan. Di sekolah dia berjumpa Liang Shanbo dan keduanya saling jatuh cinta, meski takdir serta tradisi family menghalangi hubungan mereka.
Diangkat dari legenda klasik “Butterfly Lovers”, movie ini merupakan salah satu penyesuaian terbaik kisah cinta paling terkenal dalam budaya Tionghoa. Romansa tragisnya dipadukan dengan sinematografi nan elegan dan nuansa klasik nan kuat.
6. He’s a Woman, She’s a Man (1994)
Seorang wanita tomboy menyamar sebagai laki-laki demi mengikuti audisi nan diadakan penyanyi idolanya. Situasi menjadi rumit ketika hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu nan tidak terduga.
Film ini menghadirkan komedi romantis nan segar sekaligus berani untuk masanya. Selain menghibur, karya ini juga mengangkat rumor identitas kelamin dan cinta dengan pendekatan nan ringan tanpa kehilangan sisi emosionalnya.
7. Moonlight Express (1999)
Seorang wanita Jepang nan kehilangan tunangannya berjumpa polisi Hong Kong nan mempunyai wajah sangat mirip dengan laki-laki nan dicintainya. Pertemuan tersebut perlahan membuka jalan menuju penyembuhan.
Dibintangi Leslie Cheung dan Takako Tokiwa, movie ini memadukan romansa dengan refleksi tentang kehilangan dan kesempatan kedua. Atmosfernya lembut, melankolis, dan sangat unik sinema Hong Kong akhir 1990-an.

8. Fly Me to Polaris (1999)
Seorang laki-laki tuna netra meninggal bumi sebelum sempat mengungkapkan cintanya kepada wanita nan dia sukai. Ia kemudian diberi kesempatan kembali ke bumi selama beberapa hari untuk menyelesaikan urusan nan belum tuntas.
Film ini memadukan khayalan dengan melodrama secara elegan. Selain menyuguhkan kisah cinta nan mengharukan, Fly Me to Polaris juga berbincang tentang menerima kehilangan dan menghargai waktu nan dimiliki berbareng orang-orang tercinta.
9. A Moment of Romance (1990)
Wah Dee adalah seorang pencuri mobil dan personil triad nan tanpa sengaja menahan Jo Jo, gadis muda dari family kaya, saat melakukan pelarian. Pertemuan nan bermulai sebagai situasi rawan perlahan berkembang menjadi kisah cinta nan mustahil, di tengah bumi pidana nan penuh kekerasan dan pengkhianatan.
Disutradarai Benny Chan dan diproduseri Johnnie To, A Moment of Romance menjadi salah satu movie romantis paling ikonik dalam sejarah Hong Kong. Penampilan karismatik Andy Lau sebagai antihero berjaket kulit nan mengendarai motor berbareng Jacklyn Wu melahirkan gambaran nan melegenda dalam budaya pop Asia. Perpaduan romansa tragis, aksi, dan melodrama membikin movie ini menjadi cetak biru bagi banyak movie Hong Kong dan Asia Timur pada dekade-dekade berikutnya.
10. First Love: The Litter on the Breeze (1997)
Sekelompok remaja menjalani masa sekolah sembari menghadapi cinta pertama, persahabatan, dan beragam perubahan nan mengiringi proses menuju kedewasaan.
Lebih dari sekadar kisah cinta remaja, “First Love: The Litter on the Breeze” merupakan potret nostalgia tentang masa muda nan dipenuhi angan dan ketidakpastian. Romansa nan sederhana terasa begitu tulus, menjadikannya salah satu movie coming-of-age romantis terbaik dari Hong Kong.
Mengapa Film Romantis Hong Kong Era 90-an Begitu Istimewa?
Film-film romantis Hong Kong pada dasawarsa 1990-an mempunyai identitas nan berbeda dari romansa Hollywood maupun drama Asia modern. Mereka jarang menawarkan kisah cinta nan sempurna. Sebaliknya, film-film ini berbincang tentang waktu nan tidak berpihak, pertemuan nan terlambat, hubungan nan tidak pernah betul-betul selesai, dan kenangan nan terus menghantui.
Tak kalah penting, era ini juga melahirkan style visual nan kemudian menjadi inspirasi sineas di seluruh dunia. Sinematografi penuh warna neon, penggunaan slow motion, montase nan puitis, hingga musik pop nan melekat dengan cerita menjadi karakter unik nan tetap sering ditiru hingga sekarang. Tidak mengherankan jika karya-karya Wong Kar-wai, Peter Chan, dan para sineas Hong Kong lainnya terus dipelajari sebagai contoh gimana romansa dapat disampaikan dengan begitu elegan, emosional, dan sinematik.
Lebih dari tiga dasawarsa kemudian, film-film tersebut tetap relevan. Sebab pada akhirnya, kisah cinta nan paling membekas bukanlah tentang gimana dua orang bersatu, melainkan tentang gimana mereka saling mengubah kehidupan satu sama lain, meski hanya untuk sesaat.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·