Menjauhi Dosa di Bulan Ramadhan ala Gus Baha– Ramadhan bukan sekadar bulan lapar dan haus. Ia adalah bulan pendidikan jiwa. Dalam salah satu pengajian, nan dikutip dari akun Youtube Pengajian Gus Baha, Gus Baha menjelaskan bahwa memahami kepercayaan (termasuk gimana menjaga diri di bulan Ramadhan) tidak cukup hanya dengan membaca teks. Harus ada pemahaman makna, konteks, dan tahapan. Karena itu beliau berulang kali menegaskan satu norma penting:
“makna itu lebih luas daripada lafaznya,”
Kalimat ini menjadi pintu masuk untuk memahami gimana kita semestinya menjauhi dosa di bulan suci. Sebab banyak orang terjebak pada teks, tetapi lupa ruhnya. Banyak nan sibuk memastikan puasanya sah, tetapi lupa menjaga kehormatan Ramadhan itu sendiri.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Al-Qur’an sering menampilkan ayat-ayat nan secara lahir tampak berbeda. Ada ayat nan menyebut manusia di alambaka tidak saling bertanya, tetapi ada ayat lain nan menyatakan mereka bakal ditanya.
Ada ayat nan menggambarkan manusia tidak bisa menjawab, tetapi ada juga nan menunjukkan mereka sempat menjawab sebelum akhirnya terkunci lisannya. Semua itu, sebagaimana diterangkan, terjadi dalam tahapan nan berbeda. Maka tidak boleh memahami satu ayat tanpa memandang konteksnya.
Penjelasan ini krusial agar kita tidak gegabah memahami hukum. Dalam Ramadhan pun demikian. Jangan hanya membaca larangan makan dan minum, lampau merasa bahwa selama tidak makan dan minum, semuanya aman. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Gus Baha menjelaskan bahwa setiap ayat mempunyai konteks. Ada ayat dalam surah at-Taubah ayat 36 nan berbunyi
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً
Artinya; dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi Anda semuanya
Tetapi ada pula surah at-Taubah ayat 6,
وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَࣖ ٦
Artinya; Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada nan meminta pelindungan kepada engkau (Nabi Muhammad), lindungilah dia agar dapat mendengar firman Allah kemudian antarkanlah dia ke tempat nan kondusif baginya. (Demikian) itu lantaran sesungguhnya mereka adalah kaum nan tidak mengetahui.
Jika kita tilik, satu ayat memerintahkan memerangi, ayat lain memerintahkan memberi perlindungan agar bisa belajar Al-Qur’an. Apakah bertentangan? Jawab Gus Baha, “Tidak. Konteksnya ayatnya berbeda,”.
Begitu pula dengan Ramadhan. Ada teks nan menyebut pembatal puasa adalah makan dan minum. Tetapi apakah itu berfaedah selain makan dan minum boleh merusak kehormatan bulan suci? Di sinilah norma “Fal ma‘ani a‘mamu min al-lafdzi” bekerja. Makna menjaga puasa tentu lebih luas daripada sekadar menahan makanan.
Lebih jauh, ustadz mahir tafsir terkemuka asal Narukan, Rembang, Jawa Tengah, juga menjelaskan gimana ustadz berpikir jauh lebih dalam daripada sekadar tekstual. Misalnya dalam kisah seorang nan memberi minum anjing lampau diampuni dosanya. Apakah berfaedah cukup memberi minum anjing pasti diampuni? Tidak sesederhana itu. Itu adalah waqi‘atul hal, kejadian unik dalam konteks tertentu. Tidak semua peristiwa bisa digeneralisir.
Dalam Ramadhan pun demikian. Ada orang nan mungkin melakukan kesalahan lampau bertobat dengan sungguh-sungguh dan Allah mengampuninya. Tetapi bukan berfaedah kita boleh sengaja merusak puasa lampau berambisi pemaafan datang otomatis.
Ketika membahas maksiat, Gus Baha menyebut sebuah prinsip tegas: “Ciri utama maksiat itu adalah dia jatuh, lahum fid-dunya khizyun.” Orang nan melakukan maksiat bakal jatuh kehormatannya, bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Maka ketika seseorang meremehkan Ramadhan, makan sembunyi-sembunyi tanpa uzur, alias sengaja merusaknya, sebenarnya dia sedang menjatuhkan martabat dirinya sendiri.
Dalam kajian fikih Ramadhan, terdapat perbedaan pendapat antara Imam Syafi’i dan Imam Malik. Imam Syafi’i memandang kafarah berat puasa dua bulan berturut-turut, bertindak dalam kasus tertentu seperti jima’ di siang hari Ramadhan. Tetapi Imam Malik mempunyai pendekatan nan lebih luas. Ia beranggapan bahwa siapa pun nan merusak kehormatan Ramadhan tanpa uzur syar’i, sanksinya sama beratnya.
Dalam pengajian tersebut ditegaskan dengan kalimat:
وهكذا حتى دخل جميعهم وتعارفوا على مادبة الغداء وعلى انتهاك حرمة رمضان ، اذ لم يسمهم الالقاء الفضيحة على تلك الصورة بصدر رحب . بانهم في الهوى سواء .
Artinya; Dan demikianlah hingga mereka semua masuk, lampau saling berkenalan di meja makan siang dan dalam melanggar kehormatan Ramadhan. Sebab, penyebutan (atau pelemparan) kejelekan terhadap mereka dalam gambaran seperti itu tidak dilakukan dengan lapang dada, lantaran mereka sama-sama dikuasai oleh hawa nafsu.
Artinya, demikian pula siapa saja nan merusak kehormatan Ramadhan. Bukan hanya perbuatannya nan dilihat, tetapi kehormatan bulan itu nan dijaga. Di sinilah kita memahami bahwa Ramadhan bukan hanya soal lapar. Ada orang nan merasa lemas lampau menjadikannya argumen untuk tidak kuat berpuasa.
Jika rasa lemas sedikit saja dijadikan pembenaran untuk melanggar, maka latihan spiritual tidak bakal pernah terjadi. Puasa adalah pendidikan pengendalian diri. Ia mengajari manusia bahwa tidak semua kemauan kudu dituruti.
Dalam pembahasan nan lebih dalam lagi, dijelaskan bahwa memahami Al-Qur’an memerlukan tradisi keilmuan. Tidak cukup hanya membaca terjemahan. Karena teks nan sama bisa dipahami secara berbeda jika tanpa ahwal al-‘ulama alias tradisi dan langkah berpikir para ulama.
Lebih jauh lagi, Gus Baha mencontohkan gimana Imam Syafi’i memahami ayat tentang tayamum. Al-Qur’an menyebut, “Jika Anda tidak menemukan air…” Imam Syafi’i menyimpulkan bahwa tidak menemukan berfaedah sudah mencari terlebih dahulu. Jika belum mencari, namanya bukan tidak menemukan, tetapi belum tahu. Ini menunjukkan kedalaman analisis.
Kedalaman inilah nan juga diperlukan dalam memahami Ramadhan. Jangan sampai kita hanya berpegang pada redaksi lahiriah, tetapi mengabaikan ruhnya. Makna menjaga Ramadhan tentu lebih luas daripada sekadar menahan makan.
Menjauhi dosa di bulan Ramadhan berfaedah menjaga lisan dari ghibah. Menjaga hati dari dengki. Menjaga mata dari pandangan nan haram. Menjaga tangan dari kezaliman. Semua itu termasuk dalam makna menjaga kehormatan bulan suci.
Ramadhan adalah tamu agung. Meremehkannya bukan sekadar pelanggaran teknis, tetapi pelecehan terhadap kemuliaan waktu. Maka menjauhi dosa di bulan ini adalah corak penghormatan kita kepada Allah nan memuliakannya.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari pengajian tersebut adalah bahwa kepercayaan kudu dipahami dengan kedalaman, bukan dengan emosi. Ayat-ayat tidak boleh ditarik ke arah ekstremisme alias liberalisme sesuka hati. Semua kudu ditempatkan pada konteksnya.
Demikian pula dengan Ramadhan. Jangan menyederhanakan puasa hanya menjadi urusan perut. Karena makna puasa lebih luas dari lafaznya. Menjaga diri dari dosa adalah inti latihan.
Dan jika makna memang lebih luas daripada lafaz, maka menjaga Ramadhan berfaedah menjaga seluruh diri; lahir dan batin. Bukan hanya menahan lapar hingga Maghrib, tetapi menahan diri dari segala perihal nan merusak kehormatan bulan nan suci.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·