Mass Review: Kekuatan Komunikasi Dalam Usaha Penyembuhan Pasca Tragedi

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

“Mass” merupakan movie drama debut penyutradaraan dari Fran Kranz. Mungkin beberapa dari kita familiar dengan sosoknya sebagai salah satu tokoh movie horor, “The Cabin in the Woods”, dia berkedudukan sebagai Marty Mikalski. Namun jauh berbeda dengan movie seram nan ramai, kacau, dan riuh, “Mass” merupakan movie dengan konsep minimalis dalam mengeksplorasi topik nan serius dan mendalam.

Dibintangi oleh Reed Birney sebagai Richard dan Ann Dowd sebagai Linda, serta Jason Isaacs sebagai Jay Perry dan Martha Plimpton sebagai Gail Perry. Keempat tokoh ini ‘lah nan bakal mendominasi sepanjang lama film, berbincang selama kurang lebih satu jam separuh di satu ruangan.

Jay dan Gail adalah sepasang suami istri nan mau berjumpa dengan pasangan Richard and Linda. Sama-sama dirundung rasa duka nan mendalam pasca tragedi penembakan di sekolah, ini bukan arena untuk mencari siapa nan salah, namun gimana menyembuhkan luka lantaran peristiwa nan sudah terlanjur terjadi. Buat fans movie drama padat dialog, “Mass” bisa jadi nan sedang dicari-cari. Meski hanya berlatar di satu letak dan dibintangi oleh empat tokoh nan hanya berdialog, dijamin ada banyak aspek unggul nan membikin pengalaman menonton kita jauh dari kata membosankan.

mass.movie

Bukan Mencari Siapa nan Salah, Namun Saling Memahami untuk Menyembuhkan

Gail dan Jay adalah orang tua nan anak laki-lakinya menjadi salah satu korban penembakan masal di sekolahnya. Setelah 6 tahun berlalu, mereka memutuskan bertatap muka dengan pasangan Linda-Richard, orang tua dari salah satu tersangka penembakan tersebut. Berempat mereka sepakat untuk melakukan pertemuan tertutup untuk mendengar cerita masing-masing dan mencari pengobatan batin.

Ide bakal perbincangan antara orang tua korban dan pembunuh sebagai premisnya saja cukup menarik; perbicangan seperti apa nan bakal terjadi di antara dua kubu nan saling berlawanan ini? Untungnya, ini menjadi skenario obrolan nan beradab dan logis antara kedua pihak.

Tanpa flashback alias editing nan berlebihan, kita betul-betul memandang perbincangan dengan alur nan teratur antara keempat karakter. Tampak terorganisir namun juga natural. Justru menjadi sesuatu nan memukau gimana semua ini berasal dari naskah nan ditulis dengan perencanaan. Fran Kranz jelas mempunyai talenta juga dalam menulis naskah dengan alur realism. Melihat premisnya, mungkin timbul dugaan ini bakal menjadi perbincangan emosional nan menguras tenaga. Namun, naskah “Mass” mempunyai pendekatan aspek nan membikin perbincangan keempatnya tidak hanya omong kosong dan luapan kemarahan saja.

Bicara tentang topik tragedi penembakan masal di sekolah nan sudah menjadi masalah umum di Amerika Serikat, pembahasan tidak konsentrasi pada izin senjata, politik, dan prinsip nan berkarakter provokatif. Ini adalah pembicaraan dari hati ke hati, antara dua orang tua nan menyayangi anak masing-masing. Bahkan Richard dan Linda sekalipun nan anaknya adalah pembunuh dalam skenario ini. Mereka juga tidak lepas dari rasa berkabung dan penyesalan nan sama dalamnya dengan orang tua korban.

Pengembangan Atmosfer nan Natural dan Akting Masterclass

Awalnya “Mass” bakal terlihat terlalu realistis hingga membosankan. Berlatar di gedung gereja umum, dua pelayan gereja terlihat mepersiapkan ruangan untuk suatu pertemuan sembari menyelesaikan pelayanan mereka di rumah ibadah tersebut. Judy, diperankan Breeda Wool menjadi salah satu karakter pendukung nan tampil terlalu ramah. Menimbulkan suasana nan kikuk pada beberapa adegan, namun ini menjadi pelengkap untuk konsep latar “Mass” nan dipresentasikan serealistis mungkin.

Ketegangan mulai terasa ketika Gail dan Jay tiba di gereja dan memasuki ruangan pertemuan. Jay pada babak awal menjadi sosok nan berupaya ramah untuk melindungi istrinya, Gail, nan terlihat menampung banyak emosi tertahankan.

Suasana segmen terasa semakin intens dalam keheningan sekalipun ketika pasangan Richard dan Linda tiba. Kedua pasangan memulai sesi perbincangan dengan basa-basi ramah namun terlihat jelas kesesakan dari setiap pihak di udara kosong ruangan. Richard dan Linda tampil dengan busana nan lebih formal. Dari kubuh pasangan ini, Richard menjadi pihak nan berupaya stabil dan terkontrol, sementara Linda menunjukan gesture nan lebih ramah dengan empati setiap kali berbicara. Martha Plimpton, Ann Dowd, Jason Isaacs, dan Reed Birney menampilakan akting berbobot masterclass nan sangat memukai. Kualitas naskah dan akting menjadi kekuatan utama nan solid dari “Mass”, memang hanya itu nan dibutuhkan oleh movie ini untuk berhasil.

Seiring kita menyimak berbincangan mereka, mungkin ada saatnya kita lupa kita sedang memandang empat tokoh nan sebetulnya tidak betul-betul kehilangan anak mereka. Ini hanya skenario fiksi. Namun mulai dari naiknya nada bicara, tangisan nan pecah tanpa build up, hingga perdebatan nan tidak terhindarkan terlihat sangat otentik dan meyakinkan. Mungkin beberapa dari kita bakal ikut menangis lantaran kita juga bisa merasakan luka, amarah, dan penyesalan nan dialami setiap karakter. Seakan dua anak nan dibicarakan betul-betul ada, padahal apalagi foto kedua anak dalam skenario ini sama sekali tidak ditunjukan ke penonton.

Perspektif nan Mencerahkan dari Dua Belah Pihak Orang Tua dalam Tragedi Penembakan di Sekolah

Mengangkat tema tragedi penembakan di sekolah sudah bukan topik baru di film-film dari Amerika Serikat. Kebanyakan deretan tersebut mempunyai naskah nan menghakimi dan eksploitatif, namun alangkah sensitifnya Fran Kranz menulis skenario dengan kemungkinan kasus nan kerap luput dari masyarakat nan terlanjur dibutakan oleh rasa tidak suka dan main pengadil sendiri. Biasanya tragedi seperti memberikan latar belakang anak dari keluarga broken home alias orang tua nan menelantarkan apalagi menyakiti anak mereka. Sehingga anak-anak nan melakukan tindakan tersebut diasumsikan sedang melampiaskan kemarahan mereka. Orang tua mereka nan kudu disalahkan.

Namun gimana dengan orang tua nan sudah berupaya sebaik mungkin untuk membantu anaknya? Beberapa tragedi besar nan tidak terduga sekalipun kerap terjadi di luar kendali, termasuk tragedi nan menimpah Richard dan Linda. Keduanya dipresentasikan sebagai orang tua nan beradab dan telah mengusahakan nan terbaik sebelum anaknya melakukan perihal nan tidak terbayangkan tersebut. Lepas dari kesalahan nan telah anak mereka perbuat, mereka tak bisa dihakimi hanya lantaran tetap mencintai anak mereka nan disebut psikopat oleh masyarakat luas.

Sementara untuk Gail dan Jay, ada langkah lain untuk memaknai dan mengenang kepergian tragis dari anak mereka. Bagaimana berbaikan dan mencari pengobatan lebih krusial daripada menyalahkan dan mendendam. Kedua prespektif ini mempunyai kedalaman nan mungkin tetap susah dijangkau oleh beberapa dari kita. Hal ini nan Fran Kranz ajukan sebagai tatangan untuk penontonnya. Cara memaknai dan menyembuhkan diri dari tragedi dengan langkah nan beradab. Dari awal pun keempat karakter mempunyai motivasi nan baik dalam menyetujui pertemuan ini.

Pada akhirnya, “Mass” bisa menjadi pengalama spesial untuk kita menyimak topik pembicaraan nan sangat berat. Mungkin situasi nan tidak banyak dari kita alami, namun ada banyak pelajaran tentang memaafkan, rumor parenting, serta mendapatkan kekuatan untuk tetap berempati sekalipun kita merasa sebagai korban dalam suatu tragedi.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura