Marhaban Ya Ramadhan Perspektif Prof. Quraish Shihab

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Marhaban Ya Ramadhan Perspektif Prof. Quraish ShihabMarhaban Ya Ramadhan Perspektif Prof. Quraish Shihab

– Ramadhan selalu datang membawa suasana nan khas: masjid nan lebih ramai, lantunan ayat suci nan menggema, serta ucapan nan berulang kali terdengar, “Marhaban Ya Ramadhan.”

Namun, bagi M. Quraish Shihab, ungkapan ini tidak boleh berakhir sebagai tradisi lisan semata. Ia kudu dipahami sebagai pernyataan jiwa nan mendalam, sebagai kesadaran spiritual nan lahir dari pemahaman makna.

Dalam salah satu kultumnya, nan tayang di akun Youtube SCTV, Abi Quraish Shihab membujuk kita untuk merenung: “Apa sebenarnya nan dimaksud dengan kata Marhaban nan Ramadhan itu?” Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membuka alam makna nan luas. Selama ini, banyak orang menerjemahkan marhaban dengan “selamat datang”. Terjemahan itu tidak salah, tetapi menurut beliau, maknanya jauh lebih dalam.

Kata marhaban berasal dari akar kata rahab. Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata tersebut setidaknya mempunyai dua arti. Pertama, berfaedah lapang. Karena itu, ketika seseorang mengucapkan “Marhaban Ya Ramadhan”, sesungguhnya dia sedang menyatakan, “Hati kami lapang menerimamu, kami tidak menggerutu lantaran bakal berpuasa apalagi kami menyambutmu dengan hati lapang dan senang.” Kalimat ini menegaskan bahwa Ramadhan tidak semestinya dipandang sebagai beban, melainkan sebagai hidayah nan disambut dengan kegembiraan.

Kelapangan hati ini sangat penting. Puasa memang menuntut pengendalian diri, menahan lapar dan dahaga, serta mengurangi beragam kesenangan duniawi. Tanpa kelapangan jiwa, ibadah bisa terasa berat. Namun jika hati betul-betul terbuka, Ramadhan menjadi bulan nan dinanti, bukan dihindari. Ia menjadi tamu agung nan kehadirannya dirindukan.

Makna kedua dari rahab, sebagaimana dijelaskan Prof. Quraish Shihab, adalah tempat memperbaiki kendaraan alias mengambil bekal untuk perjalanan jauh. Dalam kultumnya, beliau berkata, “Ketika kita berbicara Marhaban Ya Ramadhan maka itu berfaedah wahai bulan ini engkau adalah tempat memperbaiki jiwa kami, mensucikan jiwa kami dan mengambil bekal untuk perjalanan kami menuju Allah di hari kemudian.”

Inilah dimensi nan sering terlewatkan. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah rutin, melainkan momentum perbaikan total. Ia seumpama bengkel rohani, tempat kita memperbaiki “mesin” kehidupan nan mungkin telah aus oleh kesalahan, kelalaian, dan dosa. Ia juga menjadi tempat pengisian bekal, karena hidup di bumi hanyalah perjalanan menuju akhirat. Tanpa bekal ketaatan dan kebaikan saleh, perjalanan itu bakal terasa berat.

Makna Ramadhan Menurut Quraish Shihab

Setelah memahami makna marhaban, Prof. Quraish Shihab membujuk kita menelaah kata “Ramadhan” itu sendiri. Kata ini berasal dari akar kata ramad. Dalam penjelasannya, dia mengingatkan bahwa kata-kata dalam bahasa Arab nan diakhiri dengan huruf “an” sering kali menunjukkan makna kesempurnaan. Beliau mencontohkan bahwa tambahan tersebut menggambarkan sesuatu nan sempurna pada sifatnya.

Salah satu makna ramad adalah panas nan sangat terik. Secara historis, puasa pertama kali diwajibkan pada masa musim panas nan menyengat. Namun makna panas ini juga mengandung simbolisme. Ramadhan adalah bulan nan “membakar”. Ia membakar dosa, menghanguskan kesalahan, dan mengikis keburukan dalam diri manusia. Panas itu bukan sekadar fisik, melainkan spiritual—panas nan membersihkan.

Ada pula pendapat nan memaknai ramad sebagai musim semi, saat hujan turun dan membersihkan debu-debu nan melekat di bumi. Dalam penjelasan beliau, makna ini mengandung pesan bahwa Ramadhan adalah bulan pembersihan.

Ia datang untuk menyucikan jiwa dari noda dan dosa melalui beragam ibadah positif nan diridhai Allah. Puasa, salat malam, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan beragam amal lainnya menjadi sarana turunnya “hujan rahmat” nan membersihkan hati.

Dari seluruh uraian tersebut, tampak bahwa “Marhaban Ya Ramadhan” bukanlah sekadar ucapan seremonial. Ia adalah angan dan komitmen. Doa agar bulan ini betul-betul menjadi sarana penyucian. Komitmen untuk menyambutnya dengan hati lapang dan kesiapan memperbaiki diri.

Ramadhan, dalam perspektif Prof. Quraish Shihab, adalah bulan kesempurnaan dalam pembakaran dosa dan pembersihan jiwa. Ia adalah ruang transformasi. Jika disambut dengan kelapangan hati dan diisi dengan ibadah nan tulus, maka Ramadhan bakal meninggalkan jejak perubahan nan nyata dalam diri seseorang. Jiwa menjadi lebih bersih, adab menjadi lebih indah, dan hubungan dengan Allah menjadi lebih dekat.

Akhirnya, ketika kita kembali mengucapkan “Marhaban Ya Ramadhan”, semoga kita tidak lagi memaknainya secara dangkal. Kita mengucapkannya dengan kesadaran bahwa bulan ini adalah kesempatan emas nan mungkin tidak selalu berulang. Kita menyambutnya sebagai tamu agung, sebagai bengkel perbaikan jiwa, dan sebagai tempat mengambil bekal untuk perjalanan panjang menuju kehidupan nan abadi.

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah