Di tengah latar sinema dengan presentasi naskah nan kompleks dan plot twist tidak terduga, “Locke” (2013) tampil mencolok dengan konsepnya nan minimalis. Film nan disutradarai oleh Steven Knight di bawah A24 ini berupaya menggali kompleksitas dari plot nan sekilas terlihat sederhana.
Dibintangi oleh oleh Tom Hardy sebagai Ivan Locke, kita bakal mengikuti perjalanannya mengendarai mobil sendirian semalaman dari Birmingham ke London, sembari mengambil beragam keputusan nan bakal mengubah hidupnya secara drastis hanya dalam kurun waktu kurang lebih 2 jam.
Dalam ulasan ini, kita bakal menghindari pembahasan terlalu perincian tentang sinopsis dan alur cerita, lantaran setiap menit terasa terlalu berbobot dan mengandung spoiler nan krusial. Fakta ini justru semakin memikat dari movie nan plotnya hanya ‘seorang laki-laki mengendarai mobil semalaman’, apa plot twist besar nan mungkin menanti kita di akhir perjalanan?
“Locke” mau membujuk kita kembali menikmati sinema tanpa antisipasi akan plot twist maupun peristiwa mengejutkan. Namun horor, kegelisahan, dan ketegangan bakal terasa sangat nyata ketika kita memposisikan diri sebagai Ivan Locke, satu-satunya karakter nan datang dalam segmen sepanjang film.

“Locke” bukan movie thriller pidana seperti “Taxi Driver” (1976) alias “Drive” (2011) jika ada nan berasumsi demikian. Tidak ada pembunuh bayaran, pengedar narkoba, alias mafia nan sedang meneror Locke. Ini hanya kisah seorang laki-laki nan melakukan kesalahan dalam hidup, kemudian berkeinginan untuk melurus keadaan sesuai dengan keyakinannya, dan Ivan Locke bakal jadi karakater dengan tekad paling kuat nan pernah kita lihat dalam film. Ini adalah tipikal movie dengan studi karakter nan menarik. Mulai dari kehidupan percintaan, keluarga, karir, dan masa lalunya, memukau gimana sutradara Knight bisa merangkum seluruh hidup Ivan Locke hanya dalam perjalanan selama beberapa jam saja. Dengan begitu, titel titularnya betul-betul menghidupi naskahnya.
Tom Hardy merupakan salah satu tokoh nan terkenal dengan gambaran sebagai laki-laki maskulin, sering kali kasar, tak jarang juga berkedudukan sebagai antagonis. Melihat filmografi populerya mulai dari “Mad Max: Fury Road”, “The Dark Knight Rises”, “Venom”, dan menjadi salah satu mafia dalam “Peaky Blinders”, tokoh ini mungkin bukan nan pertama muncul di akal kita ketika membayangkan sosok laki-laki nan perfeksionis, cekatan, dan tenang.

Tom Hardy tak perlu tampil overracting untuk menyakinkan kita bahwa dia sedang dalam situasi tertekan dan dipenuhi rasa frustrasi, serta kegilaan dan paranoia nan menggerogotinya selama perjalanan solonya. Ini jelas menjadi penampilan terbaik dan paling underrated dari Tom Hardy.
Apa lagi nan bisa membikin kita terpikat mengikuti perjalanan Ivan Locke jika tanpa plot twist dan kejutan nan dramatis? Berapa banyak dari kita merasa penasaran dan tertarik dengan drama kehidupan orang lain? Kita bisa menyimak video di YouTube dengan lama sekitar 50 menit alias membaca thread di X (masih dikenal sebagai Twitter), kemudian membaca komen-komen Netizen selama berjam-jam.
“Locke” mempunyai “drama” nan bakal membikin kita penasaran dengan nasib Ivan Locke, namun dengan langkah nan lebih elit, menantang penontonnya untuk mempelajari karakter Locke dari sikapnya ketika sendirian, caranya menjawab setiap panggilan, dan komentari orang-orang nan dia ajak berkomunikasi di seberang telepon.
Secara keseluruhan, “Locke” merupakan movie drama thriller nan maksimal dengan segala konsepnya minimalis. Film-film seperti ini kembali mengingatkan kita bahwa nan terpenting dalam movie adalah naskah. Kemudian didukung pula dengan tokoh nan bisa diandalkan untuk mempresentasikan perannya. Bahwa cerita bisa menarik sesederhana apapun premisnya, asalkan ada berat dalam setiap perbincangan dan narasinya.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·