Ketentuan Shalat bagi Perempuan Istihadhah Saat Berpuasa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ketentuan Shalat bagi Perempuan Istihadhah Saat BerpuasaKetentuan Shalat bagi Perempuan Istihadhah Saat Berpuasa

- Istihadhah merupakan salah satu fase nan banyak dialami oleh perempuan. Kondisi ini mempunyai keterkaitan erat dengan penyelenggaraan ibadah praksis, seperti shalat, puasa, i’tikaf, dan ibadah lainnya. 

Secara definitif, para ustadz mendefinisikan istihadah sebagai darah nan keluar dari kemaluan wanita (farj al-mar’ah) selain darah haid, melahirkan, dan nifas. Darah tersebut dapat keluar secara bersambung dengan fase haid, misalnya darah nan muncul pada hari keenam belas, ataupun tidak bersambung, seperti darah nan keluar pada usia kurang dari sembilan tahun. 

Imam An-Nawawi, menyebutnya sebagai darah penyakit alias darah rusak (al-dam al-fasād) [Abū Zakariyā al-Nawawī, Raudlah al-Thālibīn, 1/137].

Secara implikasi norma ibadah, istihadhah berbeda dengan menstruasi lantaran akibat hukumnya tidak sama. Hal ini merujuk pada sabda Nabi Saw. berikut:

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ رضي الله عنها قالت يارسول الله إني امرأة أستحاض فَلَا أَطْهُرَ أَفَأَدْعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Fathimah binti Abi Hubaisy ra. berbicara kepada Nabi Saw., ‘Wahai Rasulullah, saya adalah seorang wanita nan mengalami istihadhah sehingga tidak sedang suci. Apakah saya kudu meninggalkan salat?’ Beliau bersabda, ‘Darah tersebut adalah darah penyakit, bukan haid. Apabila menstruasi datang, tinggalkanlah salat. Apabila darah menstruasi telah berhenti, mandilah dan dirikanlah shalat.’” (HR. Muslim No. 333).

Hadis ini dipahami oleh jumhur ustadz secara konsensus bahwa wanita nan mengalami istihadhah dihukumi seperti wanita suci. Artinya, dia tetap bertanggung jawab melaksanakan ibadah wajib seperti salat dan puasa Ramadhan, serta boleh menjalankan ibadah sunnah seperti i’tikaf, membaca Al-Qur’an, menyentuh dan membawa mushaf, sujud syukur, sujud tilawah, dan ibadah lainnya [Abū Zakariyā al-Nawawī, Syarh Shahīh Muslim, 4/17].

Dalam menjalankan ibadah shalat, misalnya, wanita nan mengalami istihadhah kudu memenuhi ketentuan bersuci sebagaimana orang nan mengalami hadas terus-menerus (al-hadas al-dāim).

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Nawawī sebagai berikut:

وَإِنَّمَا أَثَرُ الْحَدَثِ الدَّائِمِ الِاحْتِيَاطُ فِي الطَّهَارَةِ، وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ، فَتَغْسِلُ الْمُسْتَحَاضَةُ فَرْجَهَا قَبْلَ الْوُضُوءِ أَوِ التَّيَمُّمِ، وَتَحْشُوهُ بِقُطْنَةٍ أَوْ خِرْقَةٍ دَفْعًا لِلنَّجَاسَةِ وَتَقْلِيلًا. فَإِنِ انْدَفَعَ بِهِ الدَّمُ، وَإِلَّا شَدَّتْ مَعَ ذَلِكَ خِرْقَةً فِي وَسَطِهَا، وَتَلَجَّمَتْ بِأُخْرَى مَشْقُوقَةِ الطَّرَفَيْنِ، فَكُلُّ هَذَا وَاجِبٌ

“Konsekuensi dari hadas nan terus-menerus adalah kehati-hatian dalam bersuci dan menghilangkan najis. Perempuan istihadhah wajib mencuci kemaluannya sebelum berwudhu alias bertayamum, kemudian menyumbatnya dengan kapas alias kain (pada bagian dalam kemaluan) untuk menahan dan meminimalkan najis. Jika darah tetap keluar, dia mengikatkan kain tambahan di bagian tengah, lampau menggunakan kain lain nan diikat pada kedua ujungnya. Semua ini hukumnya wajib.” [Abū Zakariyā al-Nawawī, Raudlah al-Thālibīn, 1/137].

Namun demikian, ketentuan bersuci tersebut mempunyai pengecualian dalam dua keadaan, yaitu:

  1. Apabila wanita mengalami rasa sakit nan berat akibat penyumbatan kemaluan (hasywu) dengan kapas;
  2. Apabila wanita sedang berada dalam kondisi berpuasa.

Dalam keadaan berpuasa, wanita istihadhah nan hendak melaksanakan salat wajib meninggalkan penyumbatan (hasywu) dengan kapas sebagaimana dilakukan di luar puasa. Ia cukup menggunakan pembalut alias pengikat luar. Hal ini lantaran penyumbatan tersebut termasuk memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh (jauf), nan dapat membatalkan puasa [Ibn Hajar al-Haytamī, Tuhfah al-Muhtāj, 1/394].

Sekilas, ketentuan ini tampak bertentangan dengan syarat keabsahan shalat. Sebab, tanpa penyumbatan, darah bakal terus keluar sehingga berpotensi membatalkan shalat. Adapun penjelasan rasionalnya adalah sebagai berikut:

أَمَّا إِذَا كَانَتْ صَائِمَةً أَوْ تَأَذَّتْ بِاجْتِمَاعِهِ فَلَا يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَشْوُ، بَلْ يَلْزَمُ الصَّائِمَةَ تَرْكُهُ إِذَا كَانَ صَوْمُهَا فَرْضًا، فَإِنْ قِيلَ: لِمَ حَافِظُوا هُنَا عَلَى مَصْلَحَةِ الصَّوْمِ لَا عَلَى مَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ ؟ أُجِيبَ بِأَنَّ الِاسْتِحَاضَةَ عِلَّةٌ مُزْمِنَةٌ فَالظَّاهِرُ دَوَامُهَا، فَلَوْ رَاعَيْنَا الصَّلَاةَ هُنَا لَتَعَذَّرَ قَضَاءُ الصَّوْمِ لِلْحَشْوِ، وَلِأَنَّ الْمَحْذُورَ هُنَا لَا يَنْتَفِي بِالْكُلِّيَّةِ فَإِنَّ الْحَشْوَ تَنْجُسُ وَهِيَ حَامِلَتُهُ بِخِلَافِهِ ثَمَّ.

“Apabila wanita itu sedang berpuasa alias merasa sakit akibat penyumbatan, maka penyumbatan tidak wajib baginya. Bahkan wanita nan berpuasa wajib meninggalkannya andaikan puasanya adalah puasa wajib. Jika ditanyakan: kenapa di sini kemaslahatan puasa lebih dijaga daripada shalat? Jawabannya, lantaran istihadhah merupakan kondisi kronis nan pada umumnya berjalan terus-menerus. 

Jika shalat lebih diutamakan di sini, maka puasa tidak mungkin dapat diqadha akibat penyumbatan tersebut. Selain itu, ancaman (dalam salat berupa keluarnya darah) tidak sepenuhnya hilang, lantaran kapas itu tetap menjadi najis sementara dia membawanya dalam salat.” [Al-Khatīb al-Syirbinī, Mughnī al-Muhtāj, 1/282].

Dengan demikian, wanita istihadhah nan hendak melaksanakan salat dalam keadaan berpuasa Ramadhan tidak diperbolehkan menyumbat kemaluannya dengan kapas, lantaran dapat membatalkan puasa. Ia cukup menggunakan pembalut.

Dalam konteks ini, kemaslahatan puasa lebih diprioritaskan. Adapun shalat nan dilakukan tanpa penyumbatan tersebut tetap sah [Sulaymān al-Bujayrimī, Hāsyiyah al-Bujayrimī ‘alā al-Khatīb, 1/343]. Wallāhu a‘lam bisshawāb

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah