Kemunculan Teori Baru, Bitcoin Bakal ‘To The Moon’ Lebih Awal?

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

– Di bumi trading, memprediksi tren pasar adalah seni dan ilmu. Namun, kali ini ada kemunculan teori baru, nan semakin mendapat perhatian di kalangan analis. Teori baru ini disampaikan oleh seorang analis berjulukan CryptoCon di media sosial X, nan mengatakan bahwa siklus Bitcoin mungkin berada di periode pergeseran signifikan 

Pergeseran ini menurutnya berpotensi mempercepat enam bulan perjalanan Bitcoin menuju puncak siklus, tepatnya pada pertengahan 2025.

 “Teori Alternatif mengatakan bahwa mungkin siklus Bitcoin bakal melonjak 6 bulan ke depan, mencapai puncak siklus pada pertengahan tahun 2025. Beberapa parameter mulai menunjukkan tanda-tanda persetujuan nan menarik!,” ungkap CryptoCon.

Kemunculan teori baru ini menarik perhatian pada beragam parameter nan tampak mendukung klaimnya. Salah satu sinyal kunci nan disorot adalah Stochastic bulanan nan mencapai puncaknya. CryptoCon beranggapan bahwa kejadian ini biasanya sejalan dengan apa nan dikenal sebagai Tahun Merah, periode ketika Bitcoin secara historis mencapai rekor tertinggi (ATH).

The Alternate Theory says that maybe… #Bitcoin cycles are about to jump ahead by 6 months, making a cycle top mid-2025.

Some indicators are starting to show some interesting signs of agreeing!

The monthly Stochastic has just topped out, something that typically only happens… pic.twitter.com/1s2QmRbsOK

— CryptoCon (@CryptoCon_) November 22, 2023

“Jadi apa artinya ini? Akankah kemunculan teori baru ini benar? Apakah puncak nilai Bitcoin bakal datang lebih awal?,” ujarnya.

Berita Bitcoin: 3 Alasan Bitcoin Koreksi ke Daerah $36.000 dalam 4 Jam! Semua lantaran Amerika

Ia menjelaskan, berasas info historis, setiap kali Bitcoin menyentuh garis merah pada stokastik, maka sekitar satu tahun sebelumnya mata duit mata uang digital mencapai puncaknya. Debat dari kemunculan teori baru ini pun semakin memanas, ketika organisasi mata uang digital mempertimbangkan implikasi bakal deviasi potensial ini dari kebijaksanaan konvensional. 

Bisakah puncaknya tiba lebih sigap dari nan diharapkan? Apakah pasar mata uang digital bakal mengalami kejutan nan tidak terduga?

Meski begitu, dirinya juga mewanti-wanti agar tetap berhati-hati lantaran sampai saat ini, price action tetap belum membuktikan validitas dari kemunculan teori baru tersebut. Satu-satunya konfirmasi nyata bakal datang jika Bitcoin sukses menciptakan ATH baru lebih awal dari agenda biasanya.

Kemunculan teori baru nan bisa disebut sebagai ‘Teori Alternatif’ ini berlawanan dengan teori halving tradisional. Pasalnya, teori halving tradisional menunjukkan bahwa puncak siklus Bitcoin bakal terjadi dalam rentang plus alias minus 21 hari dari 28 November 2025. Teori ini, nan diajukan awal tahun ini, telah menarik perhatian lantaran akurasinya dalam memprediksi beragam tonggak pasar.

“Teori Siklus Halving nan sebenarnya menunjukkan bahwa puncak bakal terjadi kurang lebih 21 hari terhitung tanggal 28 November 2025,” kata CryptoCon.

Teori siklus halving lama pun sukses meramalkan dasar siklus dalam rentang waktu nan ditentukan dari 28 November 2022, dan mengidentifikasi kesempatan pembelian optimal selama tahun hijau. Selain itu, langkah lama ini sukses meramalkan puncak awal pertama dalam kurang lebih 21 hari dari 9 Juli 2023, ditandai dengan titik kuning di grafik. 

Tidak hanya itu, model tradisional ini juga memprediksi kembalinya Bitcoin ke nilai median (setengah dari ATH sebelumnya, di US$ 34.500) selama tahun hijau.

“Sampai ada sesuatu nan berbeda, maka tidak bakal ada perubahan. Tapi lebih baik bersiap untuk apa saja nan bakal datang selanjutnya,” pungkas CryptoCon. 

Muhammad Syofri

Trader Forex dan Bitcoin nan sudah bergulat di bagian trading dari tahun 2013. Sering menulis tulisan tentang blockchain, forex dan cryptocurrency.

Selengkapnya
Sumber cryptoharian
cryptoharian