Jatuh Cinta Seperti di Film-film Review: Leburan Realita dan Fiksi Penulis

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

Setiap orang tentu mempunyai arc-nya masing-masing, dimana dalam satu arc ini terdapat beragam sequence untuk memahami kejadian nan dialami orang tersebut. Seiring waktu, banyak perihal nan dapat dipelajari olehnya, memberikan pengembangan diri nan dapat memberikan arti. Singkatnya, ini nan mau diutarakan dalam ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ nan sudah datang di bioskop.

‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ merupakan drama romansa produksi Imajinari dan Cerita Films nan disutradarai oleh Yandy Laurens, sebelumnya terkenal dengan mengarahkan jenis modern ‘Keluarga Cemara’ dan webseries ‘Yang Hilang dalam Cinta’.

Menempatkan Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir sebagai pasangan pemeran utamanya, movie ini bercerita tentang Bagus, seorang penulis naskah nan berjumpa kembali dengan Hana, cinta masa lalunya nan menjanda setelah kepergian suaminya. Untuk memikatnya, Bagus menuliskan kisahnya dengan Hana ke dalam naskah movie komersil, nan alih-alih menjadi romantis, justru berubah membawa bentrok antara keduanya dan orang-orang sekitar Bagus.

Jatuh Cinta Seperti di Film-film

Dalam narasinya, ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ bergerak maju, mengiringi kisah Bagus dengan Hana dan orang-orang lain terdekatnya. Untuk memudahkan penceritaan kisahnya, Yandy Laurens nan juga menulis naskah movie ini membagi cerita ke dalam beberapa sequence, membikin penonton seakan-akan berada dalam kisah sang laki-laki paruh baya nan entah itu kejadian nyata alias hanya skenario film.

Yandy Laurens tampaknya membikin ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ sebagai corak kecintaannya terhadap film, utamanya surat cinta bagi genre drama romansa nan belakang ini pamornya menurun kala industri movie Indonesia dihujani oleh movie seram semenjak beberapa tahun ke belakang. Tak hanya itu, blurry lines yang datang pada realita dan fiksi Bagus dalam kisah romansanya dengan Hana menjadikan filmnya lebih menarik untuk diikuti.

Jatuh Cinta Seperti di Film-film

Sebagai movie nan berfokus sepenuhnya pada satu point of view, karakterisasi mengenai Bagus tampak sangat menonjol pada ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’. Bisa dibilang, Bagus dalam movie ini ter-develop dengan perlahan seiring dengan false belief yang dia percayai, memberikan pengaruh juga terhadap karakter lain dalam kisah sang penulis naskah. Semuanya tertampil dengan baik di layer berkah akting memukau dari para cast-nya, utamanya Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, dan Sheila Dara Aisha.

Terlepas dari cemerlangnya aspek narasi dan karakterisasi pada ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’, technical aspect dari movie pengarahan Yandy Laurens ini juga tak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu perihal paling mencolok dari teknisnya adalah pemakaian color tone monokrom, memberikan kesan artsy dan secara tak langsung mensugesti penonton untuk semakin terserap ke dalam ceritanya. Selain itu, penggunaan ragam shot yang dikemas sebagai gimmick film dalam filmnya juga tersaji dengan baik.

Akhir kata, ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ merupakan kisah cinta orang-orang paruh baya nan sekaligus menjadi surat cinta pada industri movie Indonesia dengan segenap seluk-beluk dalam ceritanya. Premis simple tersebut, didukung dengan gimmick sinema lain membikin movie pengarahan Yandy Laurens ini sangat wholesome dan layak dinikmati di layar bioskop.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura