IndoFringe Dorong Ekonomi Kreatif Digital

Sedang Trending 5 jam yang lalu

BANGBARA.COM - Pendiri IndoFringe, Sachin Gopalan, menegaskan bahwa transformasi digital mempunyai peran krusial dalam memperluas akses ekonomi kreatif bagi generasi muda Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam talkshow berjudul “Digitizing Culture and Creativity: Powering the Next Wave of Creative Economy” pada Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta. Dalam pemaparannya, Sachin menjelaskan bahwa IndoFringe sekarang berkembang bukan hanya sebagai pagelaran seni dan kreativitas, tetapi juga sebagai aktivitas ekonomi imajinatif berbasis teknologi digital. Perkembangan ini dilakukan melalui hubungan dengan Indonesia Open Network (ION), sebuah prasarana perdagangan digital terbuka nan didukung pemerintah untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital nan lebih inklusif. Menurutnya, tantangan terbesar pelaku industri imajinatif saat ini adalah sulitnya menjangkau pasar serta tingginya biaya komisi pada platform digital konvensional. Ia menilai banyak platform mengambil untung terlalu besar sehingga para pembuat susah berkembang. Karena itu, IndoFringe berbareng ION mencoba menghadirkan sistem dengan biaya jasa nan jauh lebih rendah agar masyarakat, khususnya anak muda, dapat memperoleh faedah ekonomi secara lebih adil.

Sachin juga mengungkapkan bahwa IndoFringe sedang mempersiapkan peluncuran marketplace digital nan dirancang unik untuk siswa, mahasiswa, dan anak muda nan mau memperoleh penghasilan dari keahlian imajinatif mereka. Platform tersebut ditargetkan datang pada Oktober mendatang dan bakal menjadi wadah bagi beragam jenis jasa imajinatif seperti fotografi, videografi, kreasi grafis, penulisan konten, hingga jasa digital lainnya. Menurutnya, banyak generasi muda mempunyai keahlian nan baik namun tidak mempunyai akses langsung kepada konsumen alias industri. Kehadiran platform ini diharapkan bisa menjembatani kebutuhan pasar dengan talenta imajinatif nan ada. Selain menyediakan fitur pemasaran jasa, platform tersebut nantinya juga bakal mendukung sistem penyewaan alat, pencarian pekerjaan proyek jangka pendek, jasa kreatif, hingga integrasi dengan beragam aplikasi lain dalam jaringan open network. Dengan sistem tersebut, anak muda diharapkan dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan sekaligus membangun pengalaman ahli sejak dini.

Dalam kesempatan nan sama, Sachin turut menyoroti pentingnya Indonesia Open Network sebagai fondasi pendemokrasian ekonomi digital di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa ION merupakan prasarana publik nan dikembangkan berbareng pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian UMKM, guna menghadirkan jasa digital dengan biaya lebih terjangkau. Menurutnya, sistem open network bakal memberikan kesempatan lebih besar bagi pekerja imajinatif independen untuk menawarkan jasa tanpa kudu terbebani komisi tinggi dari platform besar. Nantinya, talenta nan tergabung dalam ekosistem IndoFringe dapat terhubung dengan beragam aplikasi dan jasa digital lain nan sudah menjadi bagian dari jaringan ION, termasuk operator telekomunikasi. Model ini diyakini dapat membuka kesempatan pasar lebih luas bagi pekerjaan imajinatif seperti MC, moderator, penyanyi, pelukis, content creator, hingga pekerja digital lainnya. Dengan biaya nan lebih rendah dan akses nan lebih terbuka, para pelaku ekonomi imajinatif diharapkan bisa berkembang secara lebih berdikari dan berkelanjutan.

Selain konsentrasi pada teknologi, IndoFringe juga terus memperluas jangkauan gerakannya di bagian seni dan produktivitas anak muda. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 500 sekolah telah berperan-serta dalam beragam pagelaran nan mereka selenggarakan. Sachin mengungkapkan bahwa pada awalnya banyak sekolah merasa ragu mengikuti aktivitas lintas sekolah lantaran cemas menimbulkan bentrok antarpelajar. Namun, pengalaman selama beberapa tahun menunjukkan bahwa aktivitas imajinatif justru bisa membangun kerjasama dan hubungan nan lebih positif di kalangan anak muda. Ke depan, IndoFringe menargetkan ekspansi lebih besar dengan melibatkan kampus dan organisasi imajinatif dari beragam wilayah di Indonesia. Bahkan pada 2028, mereka menargetkan penyelenggaraan 500 pagelaran secara serentak dalam waktu 10 hari. Menurut Sachin, sasaran besar tersebut hanya dapat tercapai melalui support digitalisasi nan menghubungkan promosi, koordinasi, hingga mobilisasi relawan dalam satu sistem terintegrasi. Menutup diskusi, dia mengingatkan generasi muda agar tetap mengutamakan keahlian komunikasi dan hubungan manusia meskipun teknologi serta kepintaran buatan semakin berkembang pesat di era digital saat ini.

Sumber: VRITIMES

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian alias keseluruhan tulisan
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Kholilulloh

Tags

Selengkapnya
Sumber Informasi Berita Bangbara
Informasi Berita Bangbara