Cukup menarik gimana dua serial paling antisipatif periode ini mempunyai masalah nan sama; “The Boys” Season 4 dan “House of the Dragon” Season 2. Kedua serial jagoan platform masing-masing (Prime Video dan HBO/MAX) adalah filler season nan tidak memberikan perkembangan cerita signifikan.
Namun lepas dari opini tersebut, para penonton tetap bakal menanti “House of the Dragon” Season 3 dengan rasa frustrasi. Dibandingkan dengan Season 1 bagian perdananya dan finale nan berkesan, Season 2 diawali dengan bagian underwhelming dan diakhiri dengan bagian anti-klimaks.
“House of the Dragon” Season 2 merupakan kelanjutan langsung pasca tragedi Aemond Targaryen dan Lucerys Velaryon. Ketika kita berpikir bahwa The “Black” Queen Rhaenyra Targaryen bakal lebih galak di musim selanjutnya, Rhaenyra tetap tidak menunjukan perkembangan karakter nan signifikan pasca meninggalnya putra tercinta.
Melihat kembali kedelapan bagian Season 2, tidak banyak momen berkesan. Jika sedikit masalah dari Season 1 adalah plot nan rushing dengan lompatan timeline hingga bertahun-tahun, “House of the Dragon” Season 2 sebaliknya mengulur-ngulur waktu menuju peristiwa utama dari “Fire & Blood” ialah Dance of the Dragons.
(Slight Spoiler!) Ulasan ini mengandung spoiler

Rhaenyra nan Masih Mengusahakan Perdamaian, Daemon Terjebak di Harrenhal
“House of the Dragons” musim perdana diakhiri dengan penampilan Emma Darcy nan berkesan sebagai Rhaenyra, menunjukan ekspresi berkabung nan beralih bentuk menjadi murka setelah mendengar berita tentang putranya, Lucerys.
Adegan mengesankan tersebut seperti tidak ada artinya ketika selama separuh Season 2 Rhaenyra tampil tak berkekuatan sebagai pemimpin, mengharapkan perdamaian, dan mengusahakan diplomasi nan dipaksakan. Narasi semakin jelas bias terhadap Rhaenyra, mempresentasikannya sebagai karakter nan “baik” dalam perang kerabat ini.
Serupa dengan Rhaenyra nan mencuri hati sebagaian besar fans musim lalu, Daemon Targaryen adalah karakter nan dipuja-puja lepas dari beragam tindakan pidana nan telah dia lakukan. Mempertahankan presentasi Harrenhal sebagai kastil berpenunggu dan terkutuk dalam semestanya, memberikan sajian baru dalam “House of the Dragon” Season 2. Namun mengurung Daemon dan Caraxes sepanjang musim di Harrenhal bukan plot nan disambut dengan positif. Sekalipun ini semacam ‘redemption season‘ bagi Daemon.
Sementara kubu hijau juga mempunyai masalahnya sendiri dengan Aegon nan mengalami krisis kepemimpinan, Aemond nan beralih bentuk sebagai sosok tiran, hingga Helaena nan kehadiran karakternya semakin terasa dalam “House of the Dragon”. Selain turbulensi emosi nan dialami oleh Alicent Hightower, hubungan gelapnya dengan Criston Cole terasa seperti gimmick romansa, hanya untuk menambahkan cela pada kubu hijau.

Kurang Aksi, Kebanyakan Strategi dan Konspirasi Terlupakan
Banyak dari kita mempunyai ekspektasi tinggi untuk “House of the Dragon” Season 2, terutama untuk tindakan sederet naga dalam perang kerabat ini. Season 2 berada di puncak setidaknya ada Episode 4 dan Episode 7. Hanya di dua bagian tersebut kita disajikan skenario showcase naga-naga dengan sinematografi memukau, koreografi visual pertarungan antar naga nan epik, serta merasakan ketegangan dan teror dari semburan api naga nan membara.
“House of the Dragon” mengandalkan practical effect nan maksimal untuk episode-episode ini. Ini kenapa serial naga produksi HBO ini tetap diakui sebagai serial dengan presentasi naga terbaik saat ini. Namun setelah memandang produksi nan rumit dengan mengadalkan api menggunakan practical effect dan CGI naga nan berbobot tinggi, sepertinya bagian produksi cukup berat di budget serta upaya di lapangan. Sayang sekali rupanya tim produksi serial ini tidak semaksimal nan kita bayangan, setidaknya untuk musim ini.
Ada satu potensi showcase naga ketika Aemond menyerang Sharp Point setelah Episode 7. Namun peristiwa tersebut dilewatkan begitu saja pada finale. Ada kematian nan monumental pada Season 2, beberapa perjanjian dan aliansi terbentuk, namun setelah seminggu alias dua minggu “House of the Dragon” Season 2 selesai mengudara, mungkin tetap kudu diingat kembali ketika Season 3 rilis. Sedikit perihal monumental terjadi pada musim ini untuk mudah dilupakan.
Episode 7 adalah Episode Terbaik
Episode 4 jadi satu bagian besar, namun Episode 7 tetap jadi nan terbaik. Ini menjadi bagian dimana Rhaenyra memutuskan untuk membentuk Army of Bastards. Mengijinkan anak-anak haram berdarah naga untuk menyatakan Seasmoke, Silverwing, dan Vermithor. Sebelum Episode 7, pertemuan Addam of Hull dengan Seasmoke juga menjadi segmen nan diarahkan dengan baik. Kemudian highlight pada Episode 7 pastinya adalah ketika sekelompok keturunan haram hendak menyatakan Vermithor.
Menjadi presentasi nan menarik gimana setiap ritual menyatakan naga ditampilkan berbeda-beda,tergantung dengan sifat naganya. Hal ini memberikan presentasi menarik untuk karakter setiap naga di semesta serial ini. Sejauh ini, interkasi dan komunikasi manusia dengan naga dalam “House of the Dragon” melampaui “Game of Thrones”, dimana dulu nan kita tahu hanya Daenarys Targaryen menyerukan ‘dracarys‘.
Episode 7 sebetulnya lebih cocok dijadikan sebagai bagian finale dengan segmen penutup Rhaenyra sebagai Queen of Dragons. Bisa menjadi presentasi visual konsisten dari bagian perdana dan finale Season 1. Sementara Episode 8 alias finale bakal lebih memikat sebagai bagian perdana Season 3 dengan bercabangnya plot untuk setiap karakter. Karena presentasi bagian finale-lah nan membikin “House of the Dragon” Season 2 meninggalkan rasa frustrasi pada penontonnya.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·