House of Ninjas Review: Laga Ninja Berlatar Thriller Spionase Modern

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

“House of Ninjas” merupakan serial Netflix Original terbaru nan diciptakan oleh Dave Boyle, disutradarai berbareng Kento Kaku nan juga menjadi bintang utama dalam serial ini.

Jika aliran thriller spionase sudah sangat terkenal di skena intermezo barat, ini waktunya Jepang menyajikan semesta spionase dengan sentuhan kebudayaan mereka nan khas. Ini seperti memadukan “Mission Impossible” alias “007” dengan semesta ninja Jepang, alias dalam serial ini, mereka bakal lebih memilih disebut sebagai shinobi.

Setelah tragedi nan membikin family Tawara kehilangan putra tertuanya 6 tahun nan lalu. Souichi Tawara, kepala family sekaligus keturunan Hattori Hanzo nan legendaris, memutuskan untuk menarik diri berbareng keluarganya dari bumi per-shinobi-an. Namun, ketika klan shinobi musuh bebuyutan mereka kembali beraksi, sekte misterius muncul, dan situasi politik Jepang mulai bergejolak, family Tawara semakin susah untuk tidak kembali ke jati diri mereka sebagai shinobi sejati.

House of Ninjas

Mengaplikasikan Dunia Ninja dalam Latar Spionase Modern

Di skena panggung mainstream, kebanyakan dari kita sudah familiar dengan ninja lantaran anime. “Ninja Hattori” dan “Naruto” telah menjadi bagian dari masa mini generasi millennial di Indonesia. Kebanyakan titel dengan tema ninja datang dalam latar khayalan nan dramatis dan dihiperbola presentasinya.

Ketika sejatinya ninja alias shinobi berbeda dengan samurai dan beragam jenis ksatria di Jepang, shinobi adalah petarung nan bertindak dalam bayangan. Mengikuti tuannya tanpa bias, meninggalkan gairah dunia, apalagi tidak mengumpukal kemenagan layaknya pada samurai.

Jati diri shinobi nan sesungguhnya tersebut nan dieksplorasi dan dielaborasi oleh Dave Boyle dalam “House of Ninjas”. Jika Amerika punya IMF (dari “Mission Imposible), kemudian Inggris mempunyai pemasok OO7, maka Jepang mempunyai klan shinobi. Para shinobi nan bekerja untuk negara, menerima perintah dari Bureau of Ninja Management (BNM), lembaga nan mirip dengan FBI dan CIA jika di Amerika.

“House of Ninjas” jadi serial nan juga memikat secara visual dan audio buat kita para fans ninja nan sudah dewasa. Mulai dari pengarahan kostum serba hitam modern nan keren dengan kesederhaannya. Meski para shinobi ini menggunakan kostum warna gelap dan banyak bertindak di malam hari, sinematografinya tetap terlihat jelas dan memikat. Kemudian ditambah dengan soundtrack rock, jazz, dan blues menyempurnakan tema modern secara keseluruhan.

House of Ninjas

Drama Komedi Keluarga, Konspirasi Politik, dan Laga Ninja Dinamis

“House of Ninjas” tak hanya tentang tindakan laga para ninja. Ada aliran thriller investigasi, misteri, apalagi romansa dan drama komedi keluarga. Lebih konsentrasi pada eksistensi family shinobi keturunan Hattori Hanzo nan berlindung di kembali nama family Tawara. Ada ayah nan mengelolah pabrik sake padahal tidak minum sake, istri sekaligus ibu nan kleptomania demi adrenalin, dan nenek misterius nan sudah pensiun dari per-shinobi-an.

Kemudian Haru, putra kedua nan tak bisa membunuh, Nagi nan kegemaran mencuri dan mengembalikan peralatan museum, serta Riku putra sulung fans klan Fuma tanpa tahu bahwa dia adalah keturunan Hattori Hanzo, musuh bebuyutan Fuma. Pada empat bagian pertama, kita bakal memandang mereka mengalami disfungsional nan menggelitik, hingga akhirnya mengetahui apa satu-satu langkah untuk kembali menjadi family nan selaras dengan memeluk jati diri mereka.

Ada persekongkolan politik juga dalam plot “House of Ninjas”, nan sayangnya tetap belum terlalu ditunjukan dalam season ini. Karena ending-nya mengindikasikan perihal tersebut baru mau dieksplorasi di season berikutnya (jika ada). Seiring berjalannya episode, segmen pertarungan bakal semakin intense dan dinamis. Koreografinya sudah cakep, cocok banget buat fans aliran spionase dengan komponen laga.

Semesta Ninja Terbaru nan Belum Ada Tandingannya

Melalui season perdananya, “House of Ninjas” tunjukan potensinya sebagai serial dengan semesta spionase unggulan di Netfilx. Mulai dari naskah, penampilan setiap aktor, komplit dengan hubungan dan chemistry masing-masing karakter sudah sangat solid.

Menuju bagian terakhir, timbul cukup sentimen pada penonton untuk menanti kembalinya family Tawara di season berikutnya. Sayangnya sejak rilis perdana pada Februari 2024, serial ini bisa jadi salah satu hidden gems di antara banyaknya rilisan terbaru Netflix.

Rilis sepekan sebelum “Avatar: The Last Airbender”, “House of Ninjas” jelas tidak diprioritaskan promosinya pada periode tersebut. Padahal serial ini bisa jadi serial Jepang baru di katalog Netflix sepopuler “Alice in Borderland”.

Semoga saja tetap ada kemungkinan untuk serial ini mendapatkan season lanjutan lantaran season perdananya sudah mempresentasikan semesta ninja baru nan sangat sekali jika kudu tenggelam begitu saja di streaming platform ini.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura