Sejak Green Day mendapatkan perjanjian dengan label rekaman besar pada 1994 kemudian sukses dengan “Dookie”, band asal East Bay, California dipuja lantaran membawa rock punk ke skena musik utama.
Kerap bereksperimen dengan musik mereka, mengubah style selama bertahun-tahun, banyak nan beranggapan Billie Joe Armstrong, Tré Cool, dan Mike Dirnt menjual musik mereka ke panggung mainstream. Mulai dari album dengan konsep rock stadion pada tahun 2000an, hingga pop-punk dalam beberapa tahun belakangan.
Namun dengan “Saviors” album keempat belas mereka, Green Day hendak menciptakan sesuatu nan bisa diterima oleh semua orang. Album ini terangkai dari 15 lagu rock punk. Melibatkan Rob Cavallo sebagai co-producer kali ini, Cavallo telah berjasa untuk kesuksesan “Dookie” dan “American Idiot”. Membuat album ini bakal memperdengarkan beberapa komponen dari album-album tersebut.
The Gist:
Setelah “Father of All” pada 2020 menyajikan kejutan, dimana Green Day meninggalkan topik politik dan musik punk, digantikan dengan musik garage rock, “Saviors” Green Day kembali ke style lamanya. Dengan gejolak bumi politik di negara asal mereka beberapa tahun belakangan, Joe Armstrong akhirnya tak tahan juga untuk tidak peduli dan menuangkan opini layaknya punker sejati.
Dalam ‘The American Dream is Killing Me’, ada kelelahan, dengan lirik nan condong pada sisi gelap di kehidupan masyarakat Amerika saat ini. Menyebutkan gimana orang merasa tidak berfaedah tanpa pekerjaan dan nenek-nenek nan mengkonsumsi fentanil.
Masih mengadaptasi daya positif dari album sebelumnya, “Saviors” tampaknya menemukan formula nan tepat untuk menjadi masa tolol sekaligus berbobot dalam menganggapi topik politik dan sosial. Green Day seakan hendak menunjukan pada kita bahwa mereka tetap mempunyai keberanian untuk bersuara jika mereka mau. Membuktikan bahwa salah besar bagi fans jika menganggap unit punk ini sudah tidak mempunyai taring paca “Father of All” nan lebih playful.
Sounds Vibe:
Dalam “Saviors” Green Day kembali pada style catchy mereka di era 90an ketika menulis lagu, disampaikan dengan vokal Billie Joe Amrstrong seakan membawakan orasi nan mendesak. Keterlibatan Rob Cavallo datang cukup krusial dalam pengarahan warna muskk album nan punky, tajam, namun tidak berantakan. Album ini sangat nge-punk, merujuk pada era 90an dalam presentasi musiknya. Dalam beberapa pemberhentian mungkin bakal terdengar terlalu monoton.
Track seperti ‘Strange Days Are Here to Stay’ dan ‘Fancy Sauce’ bakal mengingatkan kita pada hits ‘Basket Case’. Kemudian terdengar musik punk DIY pada track ‘Look Ma, No Brains!’. Setelah beragam penelitian dan perjalanan bermusik nan berpindah-pindah pengarahan musik, Green Day kali ini hendak menunjukan gimana mereka bisa menyampaikan pesan kuat melalu melodi pop-punk nan catchy.
Best Tracks:
“Look Ma, No Brains!” dan “One Eyed Bastrad’ dua track terbaik dengan pengarahan musik punk rock klasik. ‘1981’ juga menjadi track menyenangkan dengan lirik konyol seperti ‘She is a cold war in my head, and I’m East Berlin‘.
Kemudian ada track-track lembut seperti ‘Goodnight Adeline’ nan penuh nostalgia, track akustik seperti ‘Father to A Son’ dan ‘Fancy Sauce’. Track ragam seperti ini menyelamatkan pacing dalam tracklist “Saviors”, dimana terkadang jiwa punk Green Day lupa untuk memelankan bunyi dan tempo mereka dalam 15 lagu nan bisa terdengar melelahkan.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·