Pada 30 Mei 2025, Garbage merilis album studio kedelapan mereka, ‘Let All That We Imagine Be the Light’ di bawah label BMG. Ini adalah album pertama mereka sejak ‘No Gods No Masters’ (2021), dan menjadi pernyataan musikal penuh kekuatan: kemarahan terhadap ketidakadilan, keresahan bakal perubahan sosial, sekaligus angan bakal masa depan nan lebih baik.
Diproduksi oleh Garbage berbareng Billy Bush, album ini rekaman antara 2022–2024 di studio Red Razor, GrungeIsDead, apalagi bilik pribadi Shirley Manson. Kualitas produksinya tetap tajam dan kaya—aransemen ala Depeche Mode nan elektronik, gitar tajam, dan synth nan sinematik membentuk lanskap nan intens dan dramatis. Meski terdapat beberapa lagu nan terasa agak “mengawang” tanpa konsentrasi tema nan kuat, produksi keseluruhan menunjukkan profesionalitas band nan terus terasah.
Album ini lahir dari masa pemulihan Shirley pasca dua operasi pinggul, dirilis dari ruang isolasi dan rasa sakit menjadi ekspresi nan kuat tentang perjuangan dan angan .
“There’s No Future in Optimism” adalah anthem protes nan menyuarakan perlunya mengambil angan sebagai senjata, entstanden dari turbulensi pasca George Floyd.
“Get Out My Face AKA Bad Kitty” melawan misogini dan kekerasan terhadap perempuan, menegaskan kembali bunyi Shirley nan tak tergoyahkan.
“The Day That I Met God” menutup album dengan rasa revelasi spiritual sekaligus catharsis emosional, memperlihatkan kebangkitan dari kegelapan.
Beberapa lagu interspersed seperti “Radical” dan “Love to Give” mempunyai progresi minor-key nan agak serupa dan lirik nan belum sepenuhnya matang, menunjukkan bahwa tidak semua trek mencapai puncak drama nan diinginkan.
‘Let All That We Imagine Be the Light’ adalah album nan penuh kontradiksi: gelap namun penuh harapan, luka tetapi mengandung kekuatan. Shirley Manson menunjukkan ketahanan luar biasa, sementara produksi band mempertahankan daya pikat sonik mereka. Meskipun tidak sempurna, album ini sukses menyampaikan pesan potent mengenai kemanusiaan, feminisme, dan harapan—di tengah tengah kegelapan.
Album ini memberi nyawa baru pada Garbage, menegaskan relevansi dan keberanian mereka dalam menyuarakan emosi dan kritik sosial lewat musik.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·