Orang nan sedang jatuh cinta bisa mengalami serangkaian reaksi tidak biasa di dalam otak. Bagian otak tertentu bakal teraktivasi dengan langkah baru nan aneh. Fenomena ini bisa mengubah langkah berpikir, perasaan, dan perilakunya.
Mungkin Anda sudah tahu apa nan disebut nafsu, ketertarikan, dan kelekatan, tetapi kali ini, kami bakal membahas sains di kembali munculnya beragam emosi tersebut. Cinta bisa terdiri dari ketiganya, tetapi nafsu, ketertarikan, dan kelekatan bisa juga terpisah satu sama lain.
Nafsu: Pernahkah Anda merasa sangat bergairah dan resah saat berbareng seseorang sehingga Anda tidak bisa memikirkan nan lain? Nafsu berasal dari kemauan untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan seksual. Ketika seseorang terangsang, tubuhnya bakal memproduksi hormon seks ialah testosteron alias estrogen.
Ketertarikan: Pernahkah Anda merasa tertarik secara magnetis kepada seseorang saat melihatnya? Saat muncul ketertarikan, otak bakal melepaskan hormon dopamin dan norepinefrin sebagai hadiah. Sekresi unsur kimia nan memicu rasa senang ini adalah langkah otak mengatakan, "Wow, saya suka dia dan mau menghabiskan waktu bersamanya!" Hormon ini juga bisa menurunkan selera makan dan menyebabkan insomnia. Jadi, masuk logika jika kesukaan membuatmu tidak mudah lapar alias mengantuk!
Kelekatan dan Persahabatan: Pernahkah Anda merasa sangat dekat dengan seseorang sehingga dia menjadi aspek nan sangat krusial dalam hidupmu? Selain dalam hubungan cinta, perihal ini juga terjadi dalam semua hubungan antara dua orang nan sangat akrab. Dalam hubungan cinta jangka panjang, kelekatan merupakan aspek krusial (sama halnya dengan gaya kelekatan masing-masing!). Saat seseorang merasakan kelekatan, otak bakal melepaskan dua unsur kimia: oksitosin dan vasopresin.
Jika semua ini terdengar terlalu ilmiah, dan tidak romantis, ingatlah bahwa cinta telah menjadi sumber inspirasi bagi karya besar dalam bagian seni, karya sastra, dan musik sejak dulu kala. Pengalaman cinta nan romantis (dalam beragam bentuknya!) merupakan daya hidup bagi manusia. Meskipun bisa dijelaskan sebagai akibat terjadinya perubahan unsur kimia dalam otak, cinta adalah salah satu emosi nan sangat indah, intens, dan susah dijelaskan dengan kata-kata. Shakespeare mengungkapkan perihal ini dengan sangat baik:
"Cinta adalah asap nan membubung seiring embusan napas; Saat bertemu, api berkelip di mata sepasang kekasih; Saat berpisah, lautan penuh dengan air mata cinta. Apa lagi tentang cinta? Kegilaan nan sangat bijaksana, empedu nan mencekik, dan manisan nan memperkuat lama."
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·