Film seram tahun 80-an sering kali terjebak dalam kiasan “slasher” nan repetitif, namun Brian Yuzna melalui debut penyutradaraannya, “Society”, memilih jalur nan jauh lebih berani dan menjijikkan.
Dirilis pada tahun 1989, movie ini bukan sekadar seram remaja biasa; dia adalah sebuah serangan frontal terhadap struktur kelas sosial di Beverly Hills nan menggunakan metafora biologis untuk menelanjangi kemunafikan kaum elit.
Satir nan Merayap Pelan
Naskah nan ditulis oleh Woody Keith dan Rick Fry mengikuti karakter Bill Whitney (Billy Warlock), seorang remaja dari family kaya raya nan merasa tidak “nyambung” dengan bumi di sekitarnya. Plotnya dimulai sebagai thriller paranoid—Bill merasa ada nan salah dengan keluarganya, namun semua orang, termasuk psikiaternya, meyakinkannya bahwa itu hanyalah kekhawatiran masa remaja.
Secara naratif, “Society” sangat sabar dalam membangun ketegangan. Babak pertama dan kedua berfaedah sebagai misteri nan merayap, sedikit mengingatkan kita pada style “Invasion of the Body Snatchers”. Namun, kekuatan naskahnya terletak pada gimana dia membangun rasa “gaslighting” sosial. Penonton dipaksa merasakan isolasi Bill sebelum akhirnya tabir dibuka pada babak ketiga nan legendaris. Meski dialognya terkadang terasa kaku unik movie B-movie era tersebut, kekakuan ini justru memperkuat kesan bahwa kaum elit ini memang bukan “manusia” nan sama dengan kita.

Kontras Antara Kemewahan dan Kebusukan
Rick Fichter sebagai sinematografer sukses menangkap estetika Beverly Hills nan steril, cerah, dan penuh dengan kemewahan nan menipu. Penggunaan palet warna nan hangat pada awalnya memberikan rasa kondusif semu. Namun, saat cerita berkembang, perspektif kamera mulai terasa lebih sesak dan invasif.
Screenplay-nya secara pandai membagi bumi Bill menjadi dua: permukaan nan dipoles rapi (pesta dansa, lapangan tenis) dan kebenaran nan cair serta menjijikkan di kembali pintu tertutup. Transisi dari drama remaja menuju seram surealis dilakukan dengan cukup mulus, memastikan bahwa kejutan di akhir movie tidak terasa dipaksakan, melainkan sebuah akibat logis dari premis nan dibangun.
Billy Warlock memberikan performa nan solid sebagai “everyman”. Ekspresi kebingungan dan ketakutannya menjadi jangkar bagi penonton di tengah kegilaan plotnya. Namun, bintang sebenarnya adalah para tokoh pendukung nan memerankan family Bill dan kaum elit Beverly Hills. Mereka sukses menampilkan aura superioritas nan dingin dan sedikit “off”, nan membikin penonton merasa tidak nyaman apalagi sebelum ada darah nan tumpah.
Mahakarya Screaming Mad George
Tidak mungkin membahas “Society” tanpa menyebut pengaruh praktis dari Screaming Mad George. Babak terakhir movie ini, nan dikenal dengan julukan “The Shunting”, adalah salah satu pencapaian pengaruh visual seram paling orisinal dan mengganggu dalam sejarah sinema.
Penggunaan prostetik nan menggambarkan tubuh-tubuh nan meleleh, menyatu, dan berubah corak adalah representasi visual nan sempurna untuk konsep “parasit sosial”. Ini bukan sekadar pamer teknik, melainkan sebuah pernyataan artistik tentang gimana kaum kaya secara harfiah menyantap kaum di bawah mereka.
Dampak Budaya dan Pesan Moral
“Society” telah tumbuh menjadi movie cult nan sangat dihormati lantaran keberaniannya melakukan kritik sosial nan ekstrem. Dampak budayanya terlihat dalam gimana movie ini mendahului tema-tema kesenjangan kelas nan kemudian dieksplorasi secara lebih modern dalam movie seperti “Get Out” alias “Parasite”. Film ini menjadi pengingat bahwa seram terbaik sering kali berakar pada ketakutan nyata tentang struktur kekuasaan di bumi kita.
Pesan moral nan dibawa sangatlah sinis: kelas sosial bukan sekadar tentang uang, tetapi tentang eksklusivitas nan bisa menghancurkan kemanusiaan. “Society” memperingatkan kita bahwa mereka nan berada di puncak piramida sering kali membangun kesejahteraan mereka di atas penderitaan dan “nutrisi” nan diambil dari kelas pekerja. Ia menantang penonton untuk memandang melampaui senyum tiruan para elit dan mempertanyakan apa nan sebenarnya mereka sembunyikan di kembali tembok rumah mewah mereka.
Analisis Kritis: Relevansi dengan Skandal Jeffrey Epstein
Melihat kembali “Society” di dasawarsa ini memberikan sensasi kengerian nan berbeda, terutama jika kita menarik garis lurus pada skandal Jeffrey Epstein nan mengguncang dunia. Jika dalam movie “Society” kaum elit melakukan ritual “The Shunting” untuk menyerap nutrisi dari kelas bawah, kasus Epstein menunjukkan realitas nan nyaris serupa dalam corak pemanfaatan sistematik.
Epstein dan lingkaran elitnya menciptakan “masyarakat di dalam masyarakat”—sebuah ekosistem tertutup nan kebal hukum, di mana norma moralitas manusia biasa tidak berlaku. Seperti halnya family Bill Whitney nan menganggap orang di luar lingkaran mereka hanyalah “makanan”, skandal Epstein mengungkap gimana kekuasaan dan kekayaan nan ekstrem dapat menciptakan ilusi superioritas nan membikin mereka merasa berkuasa memangsa nan lemah demi kepuasan dan eksistensi golongan mereka.
Horor dalam “Society” bukan lagi sekadar fiksi tentang monster nan meleleh, melainkan metafora jeli tentang gimana jaringan elit dunia beraksi dalam bayang-bayang, saling melindungi, dan melakukan depravitas kolektif di kembali dinding-dinding mansion nan mewah.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·