Ballerina Review: Vengeance Berbalut Elegansi Aksi ala John Wick

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

‘Ballerina’ adalah spin‑off dari franchise John Wick, disutradarai oleh Len Wiseman, menampilkan Ana de Armas sebagai Eve Macarro, mantan balerina nan beralih bentuk menjadi pembunuh dengan tekad membara. Ditempatkan setelah John Wick 3: Parabellum, movie ini menyajikan balas dendam atas pembunuhan ayahnya, sekaligus memperluas mitologi Ruska Roma—sekolah rahasia pembunuh bayaran.

Film dibuka dengan trauma masa mini Eve nan menyaksikan ayahnya dibantai oleh kultus gelap ketua Chancellor (Gabriel Byrne). Ia dibina oleh Director (Anjelica Huston) dalam pola balet nan beralih bentuk menjadi seni pembunuhan. Misi utamanya: membalas dendam dan memburu pelaku. Alur bergerak stabil hingga klimaks di desa pegunungan berisi pembunuh bersenjata—adegan nan jadi sorotan utama.

Shay Hatten menyusun naskah dengan pendekatan fungsional: perbincangan sederhana dan langsung, sementara banyak karakter pendukung justru mencuri perhatian. Narasi berfokus pada balas dendam, nan dieksekusi tanpa berbelit, meski kedalaman emosional terbatas.

Fraser Taggart (IMAX) memanfaatkan sinar neon dan komposisi bergerak untuk menciptakan estetika visual nan menarik. Terdapat momen-momen visual ikonik, seperti duel menggunakan piring restoran dan late dance dengan flamethrower di desa bagi-bagi baju bela diri.

Film ini menampilkan koreografi tindakan nan terinspirasi oleh balet—adegan baku libas dengan piring, ski, pistol, hingga flamethrower, disusun secara taktikal dan elegan. Kecepatan segmen raw dan brutal, memberikan sensasi nan memuaskan bagi fans Wick‑style mayhem.

Ana de Armas tampil memukau sebagai Eve, menampilkan karakter nan tangguh, gesit, dan emosinya terasa melalui aktivitas fisik. Gabriel Byrne tampil berpenunggu namun kurang berkembang. Ian McShane sebagai Winston dan Anjelica Huston sebagai Director memberikan support Namun, kehadiran Keanu Reeves sebagai Wick terbagi pendapat—menambah nostalgia sekaligus mengurangi konsentrasi pada Eve.

Film mengeksplorasi tema balas dendam versus pembelajaran—Eve kudu menemukan kekuatannya sendiri, bukan hanya meniru figur seperti Wick. Meski bentrok tema ada, eksekusi lebih mengedepankan tindakan daripada refleksi emosional.

Ballerina Review

Kelebihan:

  1. Koreografi tindakan imajinatif dan brutal, disajikan dengan style sinematik tinggi
  2. Ana de Armas membawa karakter baru style Wick nan kuat dan menarik
  3. Atmosfer visual penuh gaya, menambah warna baru ke waralaba

Kekurangan:

  1. Karakter pendukung minim pendalaman motivasi
  2. Keputusan menampilkan John Wick memecah konsentrasi dan sedikit mengaburkan individuasi karakter Eve
  3. Narasi emosional terasa dangkal, lebih menyoroti balas dendam style sinematik daripada ilmu jiwa mendalam

‘Ballerina’ sukses menjadi spin‑off nan bisa berdiri sendiri—menghadirkan tindakan penuh gaya, karakter utama karismatik, dan atmosfer baru nan segar dalam bumi John Wick. Meski tidak sekuat saudaranya dalam pengembangan cerita dan emosi, movie ini tetap menjadi intermezo sinematik nan mengesankan bagi fans tindakan dewasa.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura