Bagaimana Hukum Mengqadha Shalat Tarawih?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Boleh Hukumnya Shalat Jumat Dua Gelombang Atau Dua Tempat dalam Satu WilayahBoleh Hukumnya Shalat Jumat Dua Gelombang Atau Dua Tempat dalam Satu Wilayah

Pada saat Ramadhan Nabi menganjurkan kita untuk menghidupkan malamnya dengan membaca Al-Qur’an dan shalat tarawih.  Adapun waktu shalat tarawih setelah shalat Isya sampai terbitnya fajar. Namun, ada seseorang tak sempat mengerjakan shalat taraweh pada waktu, lantas dia menqadha taraweh tersebut. Nah dalam fiqih Islam, gimana norma mengqadha shalat tarawih?

Menurut Dar Ifta Mesir, mengatakan sunah hukumnya mengqadha shalat sunah taraweh. Maka bagi orang nan luput (tak sempat) alias kehabisan waktu mengerjakan shalat sunah tarawih, maka sunah baginya untuk mengqadhanya. Lembaga Fatwa Mesir mengatakan;

وعليه فمن فاتته صلاة التراويح ندب له قضاؤها على المفتى به

Artinya: bagi orang nan luput mengerjakan shalat tarawih, maka sunah baginya untuk mengqadha shalatnya. Begitulah fatwa norma atas qadha shalat tarawih.

Namun, kudu kita akui bahwa pendapat ini bukan ijmak (kesepakatan) para ustadz empat mazhab. Para ulam sejatinya, berbeda pendapat mengenai norma mengqadha shalat tarawih bagi orang nan tak sempat melaksanakan. Mereka terbagi pada pelbagai macam pendapat mengenai norma mengqadha shalat tarawih.

Mengqadha Shalat Tarawih Menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali

Adapun ustadz dari kalangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali mengatakan tidak ada qadha bagi shalat tarawih. Pasalnya, shalat tarawih bukan shalat sunat muakkad (Baca; An-Naflul Muaqqat, ialah shalat sunah nan ada lama waktu tertentu) bagi shalat sunah Magrib dan Isya.

Berangkat dari itu maka ajaran Hanafi dan Hanbali menyimpulkan tak ada qadha bagi shalat tarawih. Lembaga Fatwa Mesir itu mengatakan sebagai berikut;

إذا فاتت صلاة التراويح عن وقتها بطلوع الفجر، فقد ذهب الحنفية في الأصح عندهم والحنابلة في ظاهر كلامهم إلى أنها لا تقضى؛ لأنها ليست بآكد من سنة المغرب والعشاء، وتلك لا تقضى فكذلك هذه

Artinya: andaikan luput (tak shalat tarawih) pada waktunya karena terbit fajar, maka para ustadz dari kalangan ajaran Hanafi dan ustadz dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa tidak ada qadha tarawih. Pasalnya, tarawih tidak masuk pada muakkad dari shalat sunah Magrib dan Isya. Demikian argumen kuat tak ada qadha bagi shalat tarawih.

Mengqadha Shalat Tarawih Menurut Mazhab Syafi’i

Sementara itu, ustadz dari kalangan Mazhab Syafi’i mengatakan boleh hukumnya mengqadha shalat tarawih.  Pendapat ini sebagaimana termaktub dalam kitab Mughni Muhtaj, Jilid I, Halaman 457, karya Muhammad Khatib Asy-Syarbini. Imam Khatib Syarbini mengatakan bahwa mengqadha shalat sunah nan ada lama waktu tertentu (naflu muaqqat) hukumnya adalah sunah.

Khatib Syarbini berkata;

(وَلَوْ فَاتَ النَّفلُ الْمُؤَقَّتُ) سُنَّتِ الْجَمَاعَةُ فِيهِ كَصَلَاةِ الْعِيدِ أَوْ لَا كَصَلَاةِ الضُّحَى (نُدِبَ قَضَاؤُهُ فِي الْأَظْهَرِ)

Artinya; Apabila luput waktu shalat sunah muaqqat (yang ada batas waktu), seperti shalat sunah nan ada rekomendasi berjamaah seperti shalat hari raya alias tidak seperti shalat Dhuha, maka sunah mengqadha’nya menurut pendapat nan jelas.

Sunah norma mengqadha shalat sunat tarawih juga merupakan pendapat Imam Nawawi. Pendapat itu termaktub dalam kitab Minhaj ath- Thalibin. Alasan kebolehan menqadha taraweh, bagi Imam Nawawi shalat tarawih tergolong shalat sunah nan ada batas waktu (naflu muaqqat). Dalam Mazhab Syafi’i shalat sunat nan ada batas waktu, maka  norma mengqadhanya adalah  boleh dan disunatkan.

Imam Nawawi berkata;

لَوْ فَاتَ النَّفَلُ الْمُؤَقَّتُ نُدِبَ قَضَاؤُهُ فِي الأَظْهَرِ

Artinya; Jika luput (tidak sempat mengerjakan tarawih), maka sunah hukumnya untuk mengqadahnya menurut pendapat nan jelas dari ajaran syafi’i.

Dalil Kebolehan Mengqadha Shalat Tarawih

Dalil tentang kebolehan mengqadha shalat sunah tarawih itu sebagaimana terdapat dalam sabda baginda Nabi Muhammad. Dalam sabda tersebut terdapat keterangan bahwa Nabi mengqadha dua rakaat qabliyyah Subuh (shalat sunah sebelum Subuh) ketika beliau tertidur di wilayah lembah Wadi dari shalat Subuh sampai mentari terbit. Berikut bunyi sabda Nabi Muhammad tersebut;

وَلِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قَضَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ لَمَّا نَامَ فِي الْوَادِي عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إلَى أَنْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Artinya: Karena sesungguhnya Nabi Muhammad SAW, mengqadha shalat sunah fajar, ketika tertidur di lembah Wadi, dari shalat Subuh sampai terbit matahari.

Ada juga sabda lain nan berasal dari Imam Bukhari dan Muslim. Dalam sabda shahih ini terdapat keterangan bahwa seorang nan lupa alias tertidur dan dia belum melaksanakan shalat, maka kata Nabi dia sunah untuk segera shalat andaikan telah tersadar alias ingat. Nabi bersabda;

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا

Artinya: peralatan siapa nan tertidur dan lupa mengerjakan shalat, maka ketika dia terbangun dan ingat belum shalat, sunah untuk segera shalat.

Adapun para ustadz dari kalangan Mazhab Maliki mengatakan tak ada rekomendasi mengqadha shalat sunah selain shalat sunat sebelum subuh. Pendapat ini sebagaimana dinukil dari kitab Hasyiyah as Shawi  a’la Syarh as Shagir, karya Ahmad bin Muhammad AS Shawi al Maliki. Dalam kitab tersebut, Ahmad As Shawi dari kalangan Maliki menyebut tak ada suruhan qadha shalat sunah selain shalat sunah dua rakaat sebelum fajar.

Dalam Hasyiyah as Shawi  a’la Syarh as Shagir dijelaskan;

وَلا يُقْضَى نَفْلٌ خَرَجَ وَقْتُهُ سِوَاهَا – أي: ركعتي الفجر-. انتهى

Artinya; tidak diqadha shalat sunah nan telah lenyap waktunya, selain shalat sunah dua rakaat fajar. Selesai.

Demikian penjelasan fiqih Islam mengenai norma mengqadha shalat sunah tarawih. Semoga bermanfaat.

(Baca: Hukum Membaca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu Diantara Shalat Tarawih?)

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah