“A Murder at the End of the World” merupakan serial misteri pidana terbaru di Disney+ Hotstar. Serial nan ciptakan oleh Brit Marling dan Zal Batmanglij ini telah sampai pada bagian ketiganya, bagian terbaru rilis setiap hari Rabu.
Dibintangi oleh Emma Corrin sebagai Darby Hart, dia adalah penulis novel true crime dan jago hacking. Darby disebut-sebut sebagai Sherlock Holmes-nya Gen Z, dia kerap memecahkan kasus pembunuhan namun bukan sebagai pekerjaan utamanya. Namun dia cukup berbakat untuk disebut sebagai detektif amatir.
Setelah merilis kitab nan dia persembahkan untuk idolanya seorang hacker, Lee Andersen, dia menerima undangan retreat eksklusif dari Andy Ronson, suami Lee Andersen sekaligus kongklomerat perusahaan teknologi terbesar.
Bersama delapan tamu lainnya, Andy Ronson mempunyai agenda krusial untuk diwujudkan. Namun aktivitas mulai terusik ketika salah satu tamunya meninggal, diduga oleh Darby bahwa ini adalah pembunuhan. Serial ini juga dibintangi oleh Brit Marling, Harris Dickinson, dan Olive Owen.

Darby Hart, Detektif Amatir Berbakat dan Jago Hacking
Emma Corrin sebelumnya terkenal melalui perannya sebagai Putri Diana muda di “The Crown” Season 4. Ia juga bermain sebagai wanita anggun dalam movie period drama “Lady Chatterley’s Lover”. Melihat Corrin berkedudukan sebagai Darby Hart nan lebih androgini menjadi pengalaman baru buat kita nan mengikuti aktris ini. Ini juga lebih dekat dengan persona aktrisnya di media.
Meski disebut sebagai Sherlock Holmes-nya Gen Z, jangan berupaya membandingkan Darby dengan karakter deketktif ikonik tersebut. Darby Hart mempunyai pesonanya sendiri, baik melalui presentasi penampilannya, latar belakang dan penokohannya juga menarik. Sejauh ini sudah memenuhi ekspektasi sebagai detektif amatir nan mempunyai rasa penasaran tinggi dan keahlian observasi nan cemerlang.

Plot Klasik Whodunit dengan Presentasi Suspenful Thriller Dewasa
“A Murder at the End of the World” mempunyai premis nan serupa dengan skenario misteri whodunit pada umumnya. Protagonis detektif ahli maupun amatir, sekelompok karakter berkumpul di letak terpencil, dan pembunuh nan perlu diungkap sebelum korban nan lain berjatuhan. Kurang lebih serial ini mempunyai premis nan mengingatkan kita pada movie “Glass Onion: A Knives Out Mystery” dan miniseries “And Then There Were None”, namun tone-nya lebih gelap dengan komponen futuristik nan elegan.
Fokus pada perspektif pandang Darby sebagai protagonis, kita bakal memandang plot masa lampau Darby dalam petualangan pertamanya dalam menelusuri kasus pembunuhan berantai. Jadi tidak hanya satu kasus, ada dua kasus nan bakal kita ikuti; awal dari kasus baru dan akhir dari kasus di masa lampau Darby. Presentasi ini disajikan dengan editing nan rapi dan eksekusi narasi nan tepat. Tidak asal maju mundur plot, ada prinsip dan langkah menggali misteri nan saling bersangkutan. Setiap kasus pembunuhan boleh berbeda, namun setiap detektif kerap mempunyai metode nan sama dalam menghadapi setiap kasus.
Sebagai wanita remaja di masa lalunya, Darby juga tidak lepas dari pengalaman romansa. Interaksinya dengan Bill Farrah dalam plot flashback sejauh ini tak kalah menarik untuk menarik untuk diikuti serta memberikan sentimen pada karakternya. Sebagai sesama orang nan antusias dengan teka-teki, hacking, dan kasus pembunuhan, arti aktivitas romantis di antara keduanya berbeda dari pasangan romantis pada umumnya.
Eksplorasi Topik Kecerdasan Buatan dan Eksperimen Teknologi Lainnya
“A Murder at the End of the World” dengan lihai menyelipkan tema teknologi terutama kecerdasaan buatan untuk membikin serialnya lebih unik dan berbeda dengan whodunit nan sudah ada sebelumnya. Hotel nan menjadi latar letak dari skenario ini datang lebih dari sekadar hotel terpencil nan sempurna sebagai letak pembunuhan. Hotel dilengkapi dengan akomodasi keamanan dan service mengandalkan teknologi mutakhir. Namun presentasinya dirancang seotentik mungkin dan tidak didramatisir. Kita tetap bisa membayangkan bahwa hotel seperti ini bisa datang di bumi nyata.
Jika Sherlock punya Watson, Darby punya Ray, kecerdasaan pengganti buatan Andy Ronson nan bisa diajak berkomunikasi di setiap perspektif hotel. Selalu menarik memandang hubungan Darby dengan Ray nan sudah seperti side kick-nya dalam memecahkan misteri nan tersembunyi di hotel tersebut.
Sejauh ini, aplikasi teknologi dan kecerdasaan buatan dalam serial ini lebih dari sekadar gimmick. Kita bakal dibuat penasaran dan tak sabar memandang apalagi teknologi nan bakal ditampilkan dalam episode-episode berikutnya untuk mendukung penelusuran Darby Hart.
Buat fans tontonan whodunit, misteri pidana dengan detektif, “A Murder at the End of the World” bisa jadi tontonan terbaru nan dinantikan bagian terbarunya di Disney+ Hotstar. Emma Corrin memikat sebagai karakter detektif orisinal terbaru, Darby Hart, tone skenario pembunuhannya nan suspenful dan elegan juga layak untuk diikuti.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·