5 Cara Menghitung Rumus Harga Jual untuk Produk Anda

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Bagaimana langkah menghitung nilai jual untuk produk dan jasa Anda ? Ada beberapa rumus nilai jual nan bisa Anda gunakan untuk menentukan berapa nilai jual produk nan ideal. Rumus untuk menghitung nilai jual kudu diketahui oleh pemilik bisnis. Tujuannya, agar Anda tidak sampai mengalami kerugian lantaran terlalu mini mematok nilai jual.

rumus nilai jual

Rumus Harga Jual untuk Barang dan Jasa

1. Mark up Pricing

Rumus nilai jual nan paling sering digunakan adalah Mark up Pricing. Ini adalah langkah menghitung nilai jual nan paling mudah dan sederhana. Dengan rumus ini Anda dapat menentukan nilai jual dengan mark up nilai sesuai keinginan.

Cara menghitung rumus nilai jual dengan metode Mark up Pricing sangat simpel. Anda hanya perlu mengetahui berapa modal dan berapa besar untung nan mau didapat. Berikut ini rumus nilai jual dengan metode Mark up Pricing:

Modal + Mark Up = Harga Jual

Contoh Kasus

Anda mempunyai 50 pasang sandal kayu tradisional dengan nilai modal Rp 56.000 per pasang. Dari setiap pasang sandal nan dijual Anda mau mendapat untung sebesar Rp 20.000 per pasang. Maka nilai jual untuk sandal kayu tradisionalnya adalah:

Rp 56.000 + Rp 20.000 = Rp 76.000

Maka nilai jual produk setiap pasang sandal adalah Rp 76.000. Maka untuk semua pasang sandal nan terjual Anda bakal mendapatkan omzet sebesar 50 x Rp 76.000 = Rp 3.800.000. Sedangkan untung nan Anda dapat dari 50 pasang sandal nan terjual adalah 50 x Rp 20.000 ialah sebesar Rp 1.000.000.

2. Cost Plus Pricing

Rumus Mark up Pricing biasanya digunakan oleh penjual nan menjual produk sendirian. Karena langkah merumuskan nilai jual sangat mudah dan cepat. Namun ada beberapa kekurangan dari rumus tersebut ialah kurang rinci menghitung biaya di luar modal, seperti: biaya listrik, penghasilan karyawan, tagihan internet, dan lainnya.

Rumus nilai jual Cost Plus Pricing datang untuk menyempurnakan metode Mark up Pricing. Saat menggunakan rumus ini, Anda tidak hanya menghitung modal saja, namun juga biaya operasional, seperti: biaya listrik toko, penghasilan karyawan, tagihan internet, biaya pengantaran, biaya perawatan produk di gudang, dan lain sebagainya.

Berikut ini langkah menghitung rumus nilai jual dengan metode Cost Plus Pricing:

(Modal + Biaya Operasional + Tagihan/Pajak) + % Laba dari modal = Harga Jual

Contoh Kasus

Anda punya 100 pasang sepatu lari dengan nilai modal Rp 250.000 per pasang. Di toko Anda terdapat 3 orang karyawan. Setelah dihitung berapa biaya operasional nan dibebankan untuk jenis sepatu nan mau dijual tersebut adalah sebesar Rp 100.000. Tagihan listrik, internet, dan pajak nan dibebankan untuk jenis sepatu nan dijual sebesar Rp 30.000. Kemudian Anda menginginkan untung sebesar 10% dari setiap sepatu nan terjual. Maka hasil perhitungannya adalah sebagai berikut:

(250.000 + 100.000 + 30.000) + (10% x 250.000) = nilai jual
380.000 + 25.000 = Rp 405.000

Jadi, untuk setiap sepatu lari dijual dengan nilai Rp 405.000. Biaya operasional dan pajak mungkin terlihat mini lantaran total biaya operasional, tagihan, dan pajak harusnya ditanggung oleh semua jenis produk nan Anda jual di toko. Di toko pasti tidak hanya satu jenis sepatu nan dijual.

3. MSRP (Manufacturer Suggested Retail Price)

Pernah mendengar istilah HET (harga satuan tertinggi) ? HET adalah salah satu corak dari penetapan nilai jual melalui metode MSRP alias Manufacturer Suggested Retail Price. MSRP adalah nilai jual nan sudah ditentukan oleh pemilik merk alias pabrik. Melalui metode ini, penjual tidak perlu repot menentukan berapa nilai jual produk. Pemilik merk biasanya sudah menentukan berapa nilai maksimal dari produk nan mereka jual.

Meskipun nilai jual produk sudah ditetapkan oleh pemilik merk. Namun, pada kenyataannya nilai jual di tangan pedagang retail tetap bisa berubah-ubah lantaran setiap penjual punya kemauan untuk mendapat untung lebih besar.

Tujuan dari MSRP adalah untuk menstabilkan nilai produk di pasaran. Langkah ini diambil untuk mencegah adanya perang nilai antara retailer di pasaran. MSRP biasanya diterapkan pada produk manufaktur seperti: peralatan elektronik, otomotif, hingga obat-obatan.

Contoh dari nilai jual MSRP adalah, misalkan sebuah obat batuk tertulis HET alias nilai satuan tertinggi Rp 14.500. Penjual bisa menjual obat batuk tersebut di nilai nan sama dengan HET alias sedikit di atas, misalnya Rp 15.000. Jika mau produk lebih laku Anda bisa jual di bawah nilai MSRP misalnya Rp 14.000. Hal ini bisa saja terjadi lantaran toh nilai dari produsen pasti di bawah nilai nan ditetapkan di HET.

4. Harga Jual Berdasarkan Pasar

Berbeda dengan MSRP, menentukan nilai jual produk dengan memandang nilai pasar tidak ditentukan oleh pemilik merk. Harga jual produk dipengaruhi oleh nilai pasaran produk alias jasa nan sama di pasaran. Dengan metode ini, Anda cukup meriset berapa rata-rata nilai jual produk sejenis di pasaran alias lingkungan Anda.

Harga produk di pasaran bisa naik suatu saat. Oleh lantaran itu, ada baiknya Anda terus memantau nilai pasaran sembari menyesuaikan nilai jual dengan modal nan dikeluarkan. Keuntungan dari metode ini adalah Anda bisa mengetahui berapa modal nan perlu dipersiapkan untuk berjualan.

Contoh kasusnya, misalnya Anda mau jualan nasi goreng dan di sekitar Anda nilai pasaran untuk satu porsi nasi goreng antara Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Jika Anda mau nilai jual lebih kompetitif, Anda bisa pasang nilai jual produk di nomor Rp 15.000 alias Rp 16.000. Sedangkan, jika mau mematok di nilai tertinggi Anda kudu tawarkan sesuatu nan berbeda, misalnya rasa nan lebih mantap alias porsi lebih banyak.

5. Value Based Pricing

Value Based Pricing adalah langkah menghitung nilai jual nan cukup kompleks dibanding rumus nilai jual lainnya. Dengan metode ini, penjual kudu melakukan survei ke banyak responden dari beragam komponen untuk mendapat nilai jual produk nan paling masuk akal.

Anda bisa paparkan teknologi, layanan, sejarah, dan kelebihan apa saja nan bisa didapat oleh konsumen. Pada dasarnya konsumen rela mengeluarkan banyak duit untuk produk nan punya kualitas tinggi, teknologi canggih, jasa nan mumpuni, dan punya nilai sejarah alias story nan unik. Apalagi jika produk nan dijual termasuk peralatan langka, nilai jual bisa dipatok sangat tinggi.

Contoh dari Value Based Pricing adalah, misalnya Anda punya mainan Action Figure limited edition nan hanya ada 10 buah di dunia. Ketika peralatan itu dicari banyak orang, Anda bisa memakai sistem lelang untuk mematok nilai jual hingga acapkali lipat dari nilai saat Anda pertama kali membelinya.

Faktor nan Mempengaruhi Harga Jual

Asal-asalan menghitung nilai jual bisa membikin upaya Anda rugi. Oleh lantaran itu, sebelum menentukan nilai jual ada baiknya Anda mengetahui aspek apa saja nan mempengaruhi nilai jual produk.

harga jual produk

1. Modal dan Biaya

Adalah aspek utama dalam menghitung rumus nilai jual produk dan jasa. Modal adalah sejumlah biaya nan kudu Anda keluarkan untuk membeli bahan baku untuk produksi produk alias membeli produk untuk dijual kembali. Sedangkan biaya ada banyak turunannya, mulai dari: sewa toko, penghasilan karyawan, tagihan listrik, pajak, dan lain sebagainya.

2. Inflasi Harga

Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin lama harga-harga semakin naik. Inflasi nilai bisa dilihat dari nilai bahan pokok, seperti: beras, telur, sayuran, buah, sampai daging nan makin lama makin mahal. Bagi Anda nan berkecimpung di upaya kuliner tentu kudu menyesuaikan nilai jual produk terus menerus. Inflasi nilai juga berjuntai dengan keadaan ekonomi suatu negara kelangkaan barang, cuaca buruk, musibah alam, hingga perang bisa berkontribusi menaikan nilai jual produk.

3. Image Produk di Mata Masyarakat

Produk dari merk ternama pasti harganya lebih mahal dibanding merk baru. Jika Anda punya upaya nan sudah bertahun-tahun dikenal oleh orang banyak, punya banyak pengguna dan cabang, kualitas nan tidak berubah, maka selamat Anda sudah mempunyai image baik di mata pelanggan. Saat sudah di posisi ini, Anda bisa menaikan nilai jual lebih tinggi lantaran produk Anda sudah mempunyai “value.”

4. Kebijakan Pemerintah

Misalnya ada kelangkaan peralatan pokok, seperti minyak goreng, bawang, alias telur ayam di pasaran. Karena langka nilai produk tersebut naik pesat. Untuk menghentikan lonjakan nilai bahan pokok, pemerintah melakukan beragam upaya misalnya operasi pasar sampai membikin kebijakan penetapan harga. Nah, kebijakan ini juga bisa berpengaruh ke nilai jual produk. Harapannya agar tidak ada penjual nan sembarangan mematok nilai sangat tinggi melampaui nilai pasaran.

Tantangan Dalam Menentukan Harga Jual Produk

Berikut ini beberapa tantangan nan biasa dihadapi saat menghitung rumus nilai jual produk dan jasa:

  • Harga jual terlalu murah disukai pasar, tapi untung nan didapat lebih sedikit
  • Harga jual terlalu mahal membikin konsumen lari ke produk pesaing nan lebih murah
  • Terlalu sering jual produk dengan nilai mahal menyulitkan kita jual produk dengan nilai murah
  • Sebaliknya, terlalu sering jual produk murah membikin kita “tidak pantas” jual produk dengan nilai mahal
  • Harga jual produk murah sering dikaitkan dengan kualitas produk nan murahan
  • Kita tidak bisa terus berjuntai ke satu supplier untuk mendapat produk alias bahan baku nan dibutuhkan.

Itulah rumus nilai jual produk nan paling sering digunakan. Cara menentukan nilai jual produk berbeda-beda tergantung jenisnya. Metode kalkulasi rumus nilai jual produk di atas bisa Anda terapkan saat jualan online di Marketplace Bhinneka.

Selengkapnya
Sumber Info Tekno Bhinneka
Info Tekno Bhinneka