Christopher Nolan kembali menghadirkan proyek ambisius melalui “The Odyssey” (2026), sebuah penyesuaian dari epos Yunani karya Homer nan selama beratus-ratus tahun menjadi fondasi beragam kisah petualangan di dunia. Namun, The Odyssey bukan sekadar cerita tentang dewa, monster, alias peperangan. Di kembali semua itu, inti kisahnya adalah perjalanan pulang—sebuah perjalanan nan mengubah seseorang hingga dia tak lagi menjadi pribadi nan sama ketika akhirnya tiba di rumah.
Tema tersebut terus hidup dalam perfilman modern. Banyak sineas mengangkat pendapat serupa, baik secara langsung maupun tidak, melalui cerita tentang kehilangan, penebusan, pencarian identitas, hingga makna sebuah “rumah”. Berikut sepuluh movie nan layak masuk watchlist sebelum menyaksikan “The Odyssey”.
1. O Brother, Where Art Thou? (2000)
Jika ada movie modern nan paling terang-terangan meminjam struktur The Odyssey, jawabannya adalah karya Joel dan Ethan Coen ini. Berlatar Amerika Selatan pada era Depresi Besar, movie mengikuti tiga narapidana nan melarikan diri dari penjara demi menemukan kekayaan karun dan kembali kepada family mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka berjumpa karakter-karakter unik nan merupakan interpretasi modern dari beragam tokoh dalam epos Homer, mulai dari Sirens hingga Cyclops. Dibalut lawaksatir dan musik folk Amerika, movie ini membuktikan bahwa kisah Odysseus bisa tetap relevan apalagi ketika dipindahkan ke latar abad ke-20.

2. The Lord of the Rings: The Return of the King (2003)
Banyak nan mengingat movie ini sebagai klimaks perang besar di Middle-earth. Namun, salah satu aspek paling emosional justru terjadi setelah perang usai.
Perjalanan Frodo kembali ke Shire memperlihatkan bahwa kemenangan tidak selalu menghapus luka. Ia sukses pulang, tetapi pengalaman nan dialaminya membikin dirinya tak lagi bisa menjalani hidup seperti sebelumnya. Tema inilah nan menjadi salah satu inti The Odyssey: pulang bukan berfaedah semuanya kembali seperti semula.

3. Cast Away (2000)
Terjebak sendirian di sebuah pulau selama bertahun-tahun, Chuck Noland hanya mempunyai satu impian: pulang.
Namun ketika angan itu akhirnya terwujud, dia mendapati bahwa bumi telah melangkah tanpa dirinya. Orang-orang nan dia cintai telah berubah, begitu pula dirinya sendiri. Robert Zemeckis menghadirkan refleksi mendalam tentang gimana waktu dan pengalaman bisa mengubah makna rumah bagi seseorang.

4. Paris, Texas (1984)
Mahakarya Wim Wenders ini mengisahkan Travis Henderson, seorang laki-laki nan tiba-tiba muncul setelah menghilang selama empat tahun tanpa jejak.
Perjalanannya bukan sekadar menuju rumah, melainkan upaya untuk berbaikan dengan masa lampau dan memperbaiki hubungan dengan putranya. Dengan visual nan sunyi dan perbincangan nan minim, Paris, Texas menjadi salah satu movie terbaik tentang penebusan, kehilangan, dan keberanian untuk kembali menghadapi kehidupan.
5. The Straight Story (1999)
David Lynch menghadirkan salah satu filmnya nan paling sederhana sekaligus paling menyentuh.
Alvin Straight, laki-laki berumur 73 tahun, menempuh perjalanan ratusan kilometer menggunakan mesin pemotong rumput demi menemui kakaknya nan sedang sakit setelah bertahun-tahun tak saling berbicara.
Tanpa tindakan spektakuler maupun bentrok besar, movie ini menunjukkan bahwa perjalanan paling epik sering kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
6. The Revenant (2015)
Sekilas, movie ini tampak seperti kisah balas dendam. Namun di kembali perjuangan Hugh Glass memperkuat hidup di alam liar Amerika, terdapat tema nan lebih dalam tentang tekad untuk kembali dari penderitaan.
Perjalanan bentuk nan ekstrem sekaligus perjalanan jiwa menghadapi kehilangan membikin The Revenant menjadi refleksi modern mengenai ketahanan manusia—sesuatu nan juga menjadi karakter unik perjalanan Odysseus.

7. Into the Wild (2007)
Christopher McCandless meninggalkan kehidupan mapannya demi mencari kebebasan di alam liar Alaska.
Semakin jauh dia melangkah dari rumah, semakin dia memahami makna hubungan antarmanusia, keluarga, dan tempat untuk kembali. Film garapan Sean Penn ini mempertanyakan apakah kebebasan sejati betul-betul dapat ditemukan dalam kesendirian.

8. The Return (2024)
Film pengarahan Uberto Pasolini ini merupakan salah satu penyesuaian terbaru dari The Odyssey. Dibintangi Ralph Fiennes sebagai Odysseus dan Juliette Binoche sebagai Penelope, movie berfokus pada kepulangan sang pahlawan ke Ithaca setelah dua dasawarsa terpisah dari keluarganya.
Alih-alih menonjolkan unsur khayalan dan mitologi, The Return memilih pendekatan nan lebih realistis dengan menyoroti trauma perang, kerinduan, dan perubahan psikologis nan dialami Odysseus. Hasilnya adalah kisah nan intim tentang seorang laki-laki nan kudu belajar menjadi dirinya sendiri lagi ketika akhirnya sukses pulang.
9. The Way Back (2010)
Terinspirasi dari kisah nyata, movie garapan Peter Weir ini mengikuti sekelompok tahanan Gulag nan melarikan diri dari Siberia dan melangkah ribuan kilometer melintasi gurun, pegunungan, dan beragam negara demi memperoleh kebebasan.
Perjalanan tersebut bukan hanya menguji daya tahan fisik, tetapi juga moral, persahabatan, dan harapan. Seperti The Odyssey, perjalanan menjadi sarana untuk mengungkap siapa seseorang ketika dihadapkan pada situasi ekstrem.
10. The Straight Story (1999)
Tidak semua perjalanan pulang kudu dipenuhi monster alias peperangan. Kadang, perjalanan paling berarti adalah ketika seseorang memutuskan memperbaiki hubungan nan telah lama retak.
Dengan ritme nan tenang dan penuh empati, movie ini mengingatkan bahwa keberanian terbesar sering kali bukan menghadapi bumi luar, melainkan mengambil langkah pertama untuk kembali kepada orang-orang nan kita cintai.
Mengapa Kisah “Pulang” Tidak Pernah Usang?
Selama nyaris tiga milenium, The Odyssey terus diadaptasi dalam beragam bentuk—film, novel, serial televisi, opera, video game, hingga komik. Alasannya sederhana: tema nan diangkat Homer berkarakter universal.
Hampir setiap orang pernah mengalami perjalanan nan mengubah hidup. Meninggalkan kampung halaman, merantau, kehilangan orang nan dicintai, memulai pekerjaan baru, hingga berupaya berbaikan dengan masa lalu. Pada akhirnya, perjalanan terbesar bukanlah mencapai tujuan, melainkan memahami siapa diri kita setelah semua itu terjadi.
Itulah sebabnya kisah Odysseus tetap relevan hingga hari ini. Rumah mungkin tidak berubah, tetapi orang nan kembali ke rumah nyaris selalu telah menjadi pribadi nan berbeda.
Menjelang perilisan The Odyssey jenis Christopher Nolan, sepuluh movie di atas dapat menjadi pengantar nan menarik untuk memahami kenapa tema “perjalanan pulang” terus menjadi salah satu fondasi paling kuat dalam sejarah sinema. Sebab terkadang, petualangan terbesar bukan tentang pergi sejauh mungkin, melainkan menemukan jalan untuk kembali.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·