– Kemukjizatan Al-Qur’an alias nan lebih dikenal dengan istilah I’jaz al-Qur’an merupakan salah satu topik nan sangat mendasar dalam kajian pengetahuan Al-Qur’an. Ulama telah beratus-ratus tahun melakukan kajian untuk mengungkap keagungan dan karakter Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.
Kita tahu, kelahiran ilmu kalam di dalam Islam lebih tepat digambarkan sebagai “kalam di dalam kalam”, lantaran kedalaman pemikiran nan terkandung di dalamnya menarik pengikutnya ke dalam perdebatan nan bercampur-campur, sebagian di atas nan lain.
Syahdan. Tragedi tokoh-tokoh pengetahuan kalam ini mulai terlihat ketika mereka berbincang tentang kemakhlukan Al-Qur’an. Akibatnya, mereka mempunyai pendapat nan berbeda dan berbeda tentang kemukjizatan Al-Qur’an.
Pertama, Abu Ishaq Ibrahim an-Nizam, pembimbing al-Jahiz dan seorang Mu’tazilah nan wafat pada masa khilafah al-Mu’tasim pada tahun 220 lebih, beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat dengan langkah sirfah.
Ini berarti, menurut Nizam, Allah memalingkan orang-orang Arab untuk menantang Al-Qur’an meskipun mereka sebenarnya bisa melakukannya. Jadi, pemalingan inilah nan luar biasa.
Menurut al-Murtada, sirfah berfaedah bahwa Allah menghilangkan dari mereka pengetahuan nan diperlukan untuk menghadapi Al-Qur’an, sehingga mereka tidak dapat membikin nan mirip dengannya. Tentu saja pendapat ini menggambarkan kelemahan pemiliknya.
Sebab, kata al-Murtada, orang nan kehilangan keahlian untuk melakukan sesuatu tidak bakal dianggap lemah selama keahlian mereka tetap ada. Al-Qur’an bukanlah mukjizat lantaran kekuasaan Allah adalah nan melemahkan (mu’jiz). Namun, kemukjizatan Al-Qur’an, bukan kemukjizatan Allah, bakal selalu ada.
“Salah satu perihal nan membatalkan pendapat sirfah ialah, kalaulah menandingi Al-Qur’an itu mungkin tetapi mereka dihalangi oleh sirfah, maka kalam Allah itu tidak mukjizat, melainkan sirfah itulah nan mukjizat, jadi kalam tersebut tidak mempunyai kelebihan apa pun atas kalam nan lain”, kata Qadi Abu Bakr al-Baqalani.
Namun demikian, pendapat tentang sirfah ini batil dan ditolak oleh Al-Qur’an sendiri. Allah Swt. berfirman:
قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰۤى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan hantu berkumpul untuk membikin nan serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak bakal dapat membikin nan serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. Al-Isra’ [17]: 88).
Ayat ini menunjukkan kelemahan mereka, tetapi juga menunjukkan keahlian mereka. Jika keahlian mereka hilang, perkumpulan hantu dan manusia tidak lagi berfaedah lantaran perkumpulan itu sama dengan perkumpulan orang-orang mati, dan kelemahan orang-orang meninggal tidak disebutkan.
Kedua, ada beberapa ustadz nan percaya bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat nan luar biasa dengan balaghah-nya nan luar biasa. Ini adalah pendapat mahir bahasa Arab nan menyukai corak makna nan hidup dalam kumpulan kata-kata nan kuat dan retorika nan menarik.
Ketiga, beberapa orang mengatakan bahwa lantaran Al-Qur’an mengandung badi’ nan sangat berbeda dengan kata-kata Arab seperti fasilah dan maqta’, itu menjadikannya mukjizat.
Keempat, golongan lain beranggapan bahwa Al-Qur’an mukjizat lantaran berbincang tentang hal-hal gaib nan bakal datang nan hanya dapat diketahui melalui wahyu dan tentang hal-hal nan telah terjadi sejak pembuatan makhluk. Seorang ummi nan tidak pernah berasosiasi dengan Ahli Kitab tidak bakal dapat menjelaskan hal-hal ini. Salah satu contoh firman Allah Swt. adalah tentang masyarakat Badr dan orang lain:
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ
Artinya: “Golongan itu pasti bakal dikalahkan dan mereka bakal mundur ke belakang.” (QS. Al-Qamar [54]: 45).
لَـقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَـقِّ ۚ لَـتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَـرَامَ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ ۙ لَا تَخَافُوْنَ ۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا
Artinya: “Sungguh, Allah bakal membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa Anda pasti bakal memasuki Masjidil haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang Anda tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa nan tidak Anda ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan nan dekat.” (QS. Al-Fath [48]: 27).
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara Anda nan beragama dan nan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh bakal menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia bakal meneguhkan bagi mereka dengan kepercayaan nan telah Dia ridai. Dan Dia betul-betul mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi kondusif sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi peralatan siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang nan fasik.” (QS. An-Nur [24]: 55).
تِلْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَاۤ اِلَيْكَ ۚ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَاۤ اَنْتَ وَلَاقَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Itulah sebagian dari berita-berita gaib nan Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang nan bertakwa.” (QS. Hud [11]: 49).
Pendapat golongan ini tidak dapat diterima (mardud), lantaran mereka menuntut ayat-ayat nan tidak mengandung buletin tentang hal-hal gaib nan telah terjadi alias nan bakal datang; ini adalah batil, lantaran Allah Swt. Telah membikin setiap surah sebagai mukjizat nan unik.
Kelima, sebagian orang percaya bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat lantaran mengandung banyak pengetahuan dan hikmah. Ada banyak aspek lain dari kemukjizatan Al-Qur’an nan berangkaian dengan tema-tema di atas, yang, menurut beberapa ulama, mencapai sepuluh alias lebih.
Al-Qur’an adalah mukjizat
Dengan segala makna nan terkandung dalam lafaz-lafaznya, Al-Qur’an pada hakikatnya adalah mukjizat. Mukjizat dalam ucapan dan uslub-nya. Dalam ikatan kata, satu huruf nan ada di tempatnya berfaedah bagi huruf lain, dalam ikatan kalimat, dan dalam jalinan surah, satu kalimat nan ada di tempatnya juga bermanfaat.
Ia mukjizat dalam perihal bayan-nya (penjelasan, retorika) dan nazam-nya. Seorang pembaca bakal menemukan gambaran hidup tentang kehidupan, alam, dan manusia di dalamnya. Ia adalah mukjizat dalam artinya lantaran telah menyingkapkan prinsip kemanusiaan dan tujuan manusia di bumi ini.
Ia adalah mukjizat dengan segala pengetahuan dan pengetahuan, nan sebagian besar hakikatnya nan gaib telah diakui dan dibuktikan oleh pengetahuan pengetahuan modern. Dia juga adalah mukjizat dalam tasyri’, mempertahankan kewenangan asasi manusia, dan membangun masyarakat teladan nan bakal menguntungkan dunia.
Al-Qur’an secara keseluruhan menjadikan orang Arab, nan sebelumnya hanyalah penggembala domba dan kambing, menjadi pemimpin bangsa dan panutan umat. Dan ini cukup bukti mukjizat.
Dalam kitabnya, Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad bin Ibrahim al-Khattabi berkata, “Maka dapat disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa Al-Qur’an itu mukjizat lantaran dia datang dengan lafaz-lafaz nan paling fasih, dalam susunan nan paling indah, dan mengandung makna nan paling valid, sahih, seperti peng-Esa-an Allah, penyucian sifat-sifat-Nya, rayuan untuk alim kepada-Nya, dan penjelasan tentang langkah beragama kepada-Nya.”
Dia meletakkan semua perihal di atas pada tempatnya masing-masing, sehingga tidak tampak ada nan diambil darinya, dan tidak dapat dibayangkan ada sesuatu nan lebih sesuai dengannya dalam pikiran. Di samping itu, dia juga menceritakan kisah orang-orang di masa lampau dan balasan nan diberikan Allah Swt. kepada mereka nan durhaka dan menentang-Nya.
Tak hanya itu, al-Khattabi dia juga menceritakan tentang hal-hal nan bakal terjadi jauh sebelum itu terjadi, mengemukakan argumen dan buktinya secara menyeluruh, serta buktinya. Dengan demikian, dia mempunyai kekuatan nan lebih besar untuk menetapkan tanggungjawab nan dia perintahkan dan mencegah larangan nan dia katakan.
Ini menunjukkan bahwa mendatangkan hal-hal seperti itu, komplit dengan beragam ragamnya, hingga tersusun dengan rapi dan teratur, adalah sesuatu nan tidak dapat dilakukan oleh manusia dan di luar keahlian mereka. Jadi, makhluk itu sia-sia di hadapannya dan tidak bisa mendatangkan sesuatu nan sebanding dengannya. Wallahu a’lam bisshawaab.
Dengan demikiaan, kemukjizatan Al-Qur’an adalah salah satu bukti keagungan Allah SWT dan kebenaran Islam. Konsep ini telah menjadi objek kajian para ustadz selama beratus-ratus tahun dan tetap terus menarik minat para peneliti. Dengan memahami konsep ini, kita dapat semakin menghargai dan mengagumi keelokan dan keajaiban Al-Qur’an.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·