Hukum Menulis Al-Qur’an dengan Huruf Latin, Bolehkah?

Sedang Trending 12 jam yang lalu
Hukum Menulis Al-Qur’an dengan Huruf Latin, Bolehkah?Hukum Menulis Al-Qur’an dengan Huruf Latin, Bolehkah?

– Di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap Al-Qur’an, muncul pertanyaan nan kerap diajukan. Bagaimana norma menulis Al-Qur’an dengan huruf latin? Apakah hukumnya sama dengan mushaf Al-Qur’an nan ditulis menggunakan huruf Arab? Dan gimana pula kedudukan Al-Qur’an nan ditulis dengan huruf Braille untuk para penyandang tunanetra?

Pertanyaan norma menulis Al-Qur’an dengan huruf latin, bukanlah persoalan baru. Para ustadz telah membahasnya sejak lama dan menghasilkan beberapa pandangan nan berbeda.

Dalam kitab  yang diterbitkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menghimpun fatwa norma dalam Munas dan Muktamar NU, nan berjudul Masalah Keagamaan: Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama, menjelaskan setelah dilakukan penelaahan terhadap beragam referensi fiqih, ditemukan dua pendapat utama mengenai norma menulis Al-Qur’an dengan tulisan selain huruf Arab, termasuk huruf latin.

Pendapat pertama berasal dari Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Menurutnya, menulis Al-Qur’an dengan tulisan non-Arab hukumnya haram. Dasar pendapat ini antara lain terdapat dalam kitab I’anatut Thalibin juz I laman 67:

.. وتحرم كتابته بالعجمية. ورأيت في فتاوى العلامة ابن حجر أنه سئل هل تحرم كتابة القرآن الكريم بالعجمية كقراءته فأجاب رحمه الله بقوله قضية ما في المجموع عن الأصحاب التحريم. وذلك لأنه قال وأما ما نقل عن سليمان رضي الله عنه أن قوما من الفرس سألوه أن يكتب لهم شيئا من القرآن فكتب لهم فاتحة الكتاب بالفارسية. فأجاب عنه أصحابنا بأنه كتب تفسير الفاتحة لا حقيقتها ، فهو ظاهر أو صريح في تحريم كتابتها بالعجمية . أهـ.

Artinya: “Dan haram menulis Al-Qur’an dengan bahasa alias aksara non-Arab (‘ajamiyyah). Aku memandang dalam fatwa Ibnu Hajar al-Haitami bahwa beliau pernah ditanya apakah haram menulis Al-Qur’an nan mulia dengan aksara non-Arab sebagaimana haram membacanya dengan bahasa non-Arab. Beliau menjawab bahwa berasas keterangan dalam Al-Majmu’ dari para ulama, menunjukkan adanya pendapat bahwa perihal tersebut haram.

Hal itu lantaran adanya riwayat dari Salman al-Farisi bahwa sekelompok orang Persia pernah meminta beliau menuliskan sesuatu dari Al-Qur’an untuk mereka, lampau beliau menuliskan Surah Al-Fatihah dalam bahasa Persia.

Para ustadz ajaran Syafi’i menjelaskan bahwa nan ditulis oleh beliau adalah tafsir (penjelasan makna) Al-Fatihah, bukan prinsip lafaz Al-Fatihah itu sendiri. Karena itu, riwayat tersebut justru dipahami sebagai dalil nan menunjukkan larangan menulis Al-Qur’an dengan bahasa alias aksara non-Arab.”

Namun demikian, tidak semua ustadz sependapat. Ada pendapat kedua, Imam Syihabuddin ar-Ramli mengambil posisi nan berbeda. Imam Ramli  memandang bahwa penulisan Al-Qur’an dengan selain huruf Arab dapat dibolehkan selama tidak mengubah lafaz Al-Qur’an itu sendiri.

Keterangan ini dapat ditemukan dalam Hasyiyah at-Tuhfah juz I laman 154:

. وتجوز كتابة القرآن بغير العربية بخلاف قراءته بغير العربية فيمتنع، والحال ما ذكر لأن مسمياتها وذواتها إنما هو القرآن. أهـ .

Artinya; Cabang masalah: Guru kami, Ahmad ar-Ramli, berfatwa bahwa menulis Al-Qur’an dengan tulisan (huruf) India diperbolehkan. Maka berasas qiyas tersebut, diperbolehkan pula menulisnya dengan tulisan lain seperti huruf Turki.

Pendapat nan nyaris senada juga ditemukan dalam Hasyiyah al-Qalyubi juz I laman 36:

. وتجوز كتابه لا قراءته بغير العربية ولها حكم المصحف في المس والحمل . أهـ .

Artinya: “Dan diperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa alias aksara Arab, namun tidak diperbolehkan membacanya sebagai Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab. Tulisan tersebut mempunyai norma nan sama dengan mushaf dalam perihal menyentuh dan membawanya.”

Dari sini tampak bahwa perbedaan pendapat para ustadz tidak terletak pada penghormatan terhadap Al-Qur’an, melainkan pada langkah menjaga keaslian lafaznya. Imam Ibnu Hajar memilih sikap lebih ketat dengan melarang penulisan menggunakan aksara non-Arab. Sementara Imam ar-Ramli membuka ruang kebolehan selama tidak terjadi perubahan terhadap lafaz Al-Qur’an.

Ketika Lafaz Al-Qur’an Berubah

Sampai di sini muncul pertanyaan penting. Apakah kebolehan nan disampaikan Imam ar-Ramli bertindak secara mutlak? Apakah setiap penulisan Al-Qur’an dengan huruf selain Arab otomatis diperbolehkan?

Ternyata tidak demikian. Para ustadz nan membolehkan tetap memberikan batas nan sangat ketat, yaitu;

A. Pendapat Imam Ramli memperbolehkan perihal tersebut di atas andaikan tidak terjadi perubahan, sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Minhaj, jilid 1 laman 76:

فائدة: سئل الشهاب الرملي هل تحرم كتابة القرآن العزيز بالقلم الهندى أو غيره ؟
فأجاب: بأنه لا تحرم لأنها دالة على لفظه العزيز وليس فيه تغيير له بخلاف ترجمته بغير العربية لأن فيها تغييرا ، وعبارة الإتقان في علوم القرآن للإمام السيوطي: هل تحرم كتابته بقلم غير العربي ؟ قال الزركشي: لم أر فيه كلاما لأحد من العلماء ويحتمل الجواز لأنه قد يحسنه من يقرؤه. والأقرب المنع . انتهت. والمعتمد الأول. أهـ. برماوى.

Faedah: Pernah ditanyakan kepada Syihabuddin ar-Ramli:

“Apakah haram menulis Al-Qur’an nan mulia dengan aksara India alias aksara selain Arab?”

Beliau menjawab:

“Tidak haram, lantaran tulisan tersebut menunjukkan lafaz Al-Qur’an nan mulia dan tidak mengandung perubahan terhadapnya. Berbeda dengan translator Al-Qur’an ke dalam bahasa selain Arab, lantaran di dalamnya terdapat perubahan (dari lafaz aslinya).”

Dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an disebutkan:

“Apakah haram menulis Al-Qur’an dengan aksara selain Arab?”

Badruddin az-Zarkasyi berkata:

“Aku tidak menemukan pembahasan mengenai perihal ini dari para ulama. Ada kemungkinan hukumnya boleh, lantaran sebagian orang mungkin lebih mudah membacanya dengan aksara tersebut. Namun nan lebih dekat (menurutku) adalah larangan.”

Selesai.

Pendapat nan mu’tamad (pegangan) adalah pendapat pertama, ialah kebolehannya. Selesai. (Keterangan al-Barmawi).

B. Penulisan Al-Qur’an dengan huruf Latin memang mempunyai faedah bagi orang nan belum dapat membaca huruf Arab. Akan tetapi, mudaratnya lebih banyak, antara lain dapat mengurangi perhatian terhadap pembelajaran dan penulisan huruf Arab.

C. Huruf Latin tidak mencukupi untuk mewakili seluruh bunyi huruf Arab. Apabila Al-Qur’an ditulis dengan huruf Latin, maka bunyinya tidak bakal sama dengan bunyi Al-Qur’an nan berkata Arab. Hal ini dapat mengubah bunyi dan tulisan Al-Qur’an, sedangkan mengubah Al-Qur’an adalah perbuatan nan dilarang (haram).

KESIMPULAN

Dengan memperhatikan keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Menulis Al-Qur’an dengan tulisan selain huruf Arab, termasuk huruf Latin, disepakati oleh Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli sebagai haram andaikan mengubah bunyi dan tulisan Al-Qur’an.

b. Apabila tidak mengubah bunyi dan tulisan Al-Qur’an, maka menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya tetap haram, sedangkan menurut Imam Ramli hukumnya boleh. Pendapat Imam Ibnu Hajar inilah nan dinilai mu’tamad (kuat).

Selanjutnya, menurut pendapat Ro’is ‘Aam PBNU, KH. Bisri Syansuri, mengenai keterangan dalam kitab Hasyiyah al-Qalyubi 1/36 alias nan semisalnya, adalah sebagai berikut:

Apabila penulisan Al-Qur’an dengan tulisan selain huruf Arab dianggap boleh, maka hukumnya sama dengan mushaf dalam perihal menyentuh dan membawanya, dan demikian pula sebaliknya.

Adapun penulisan Al-Qur’an dengan huruf Braille bagi orang-orang tunanetra hukumnya boleh lantaran adanya rencana (kebutuhan).

Mengenai penulisan Al-Qur’an dengan huruf Arab nan bukan rasm Utsmani, terdapat tiga pendapat. Pendapat nan kuat adalah pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad, ialah tidak boleh.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah