Dalil Wasiat Wajibah dalam Fikih Islam— Di Indonesia, dalam norma waris Islam, orang nan tidak berkuasa mendapat warisan seperti anak angkat bisa memperoleh bagian warisan melalui wasiat wajibah. Wasiat wajibah merupakan corak keadilan dalam Islam bagi mereka nan tidak mendapat bagian warisan, tetapi mempunyai hubungan dekat dengan pewaris, seperti anak angkat alias kerabat nan bukan mahir waris. Nah berikut dalil wasiat wajibah dalam fikih Islam.
Dalam norma positif Indonesia, konsep wasiat wajibah diatur secara tegas dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 209 ayat (2) nan berbunyi:
“Terhadap anak angkat nan tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari kekayaan warisan orang tua angkatnya.”
Artinya, seorang anak angkat nan secara norma Islam tidak termasuk mahir waris, tetap bisa memperoleh bagian maksimal sepertiga dari kekayaan peninggalan orang tua angkatnya melalui sistem wasiat wajibah.
Lebih lanjut, Putusan Mahkamah Agung No. 1/Yur/Ag/2018 memperluas cakupan wasiat wajibah, dengan menegaskan bahwa wasiat tersebut dapat pula diberikan kepada mahir waris nan berbeda agama. Ini menunjukkan bahwa prinsip keadilan sosial dan kasih sayang tetap menjadi dasar dalam penyelenggaraan wasiat dalam konteks masyarakat majemuk di Indonesia.
Landasan syar‘i mengenai rekomendasi wasiat termaktub dalam firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 180:
﴿كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ﴾
“Diwajibkan atas kamu, andaikan seseorang di antara Anda didatangi (tanda-tanda) maut sedang dia meninggalkan kekayaan nan banyak, agar beramanat kepada kedua orang tua dan kerabat dengan langkah nan patut. Ini adalah tanggungjawab bagi orang-orang nan bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 180)
Selain itu, Allah juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 8:
﴿وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا﴾
“Dan andaikan sewaktu pembagian (warisan) itu datang kerabat, anak yatim, dan orang miskin, maka berilah mereka dari kekayaan itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan nan baik.” (QS. An-Nisa: 8)
Kedua ayat ini menjadi dasar moral dan sosial bahwa Islam sangat memperhatikan hak-hak orang terdekat, meskipun mereka tidak termasuk mahir waris secara formal.
Dalil Wasiat Wajibah dalam Fikih
Menurut Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, setiap Muslim wajib membikin wasiat untuk kerabat nan tidak mendapat warisan. Mereka bisa tidak mendapat warisan lantaran statusnya sebagai budak, terhalang oleh mahir waris lain, alias memang bukan termasuk mahir waris.
Wasiat ini sebaiknya dilakukan dengan hati nan ikhlas. Jika seseorang meninggal tanpa sempat berwasiat, maka mahir waris alias pelaksana wasiat tetap perlu memberikan sesuatu kepada kerabat tersebut sesuai kebijaksanaan mereka.
Simak keterangan Ibnu Hazm berikut:
فرض على كل مسلم أن يُوصِي لقرابته الذين لا يرثون إِمَّا رِقًّا وإما لكُفْر وإما لأن هنالك من يحجبهم عن الميراث أو لأنهم لا يرثون، فيوصي لهم بما طابت به نفسه لا حَدَّ في ذلك، فإن لم يفعل أُعطوا ولابد ما رآه الورثة أو الوصي
Artinya: “Setiap Muslim diwajibkan untuk beramanat kepada kerabatnya nan tidak mendapatkan warisan, baik lantaran status mereka sebagai budak, lantaran kekafiran, lantaran adanya pihak lain nan menghalangi mereka dari warisan, alias lantaran memang mereka bukan mahir waris.
Maka hendaknya dia beramanat kepada mereka sesuai dengan kerelaan hatinya tanpa batas tertentu. Namun, jika dia tidak melaksanakan wasiat itu, maka mahir waris alias pelaksana wasiat tetap wajib memberikan sesuatu kepada mereka sesuai kebijaksanaan.” (Imam Ibnu Hazm, Al-Muhalla, Juz IX, hal. 314)
Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, wasiat diwajibkan bagi kerabat nan tidak mendapatkan warisan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Dawud az-Zhahiri, serta diriwayatkan dari Masruq, Thawus, Iyās, Qatadah, dan Ibnu Jarir. Mereka beralasan dengan ayat Al-Qur’an dan sabda Ibnu Umar.
Menurut mereka, tanggungjawab wasiat bagi orang tua dan kerabat nan termasuk mahir waris sudah dihapus, tetapi tetap bertindak untuk kerabat nan tidak mendapat bagian warisan. Simak keterangan Ibnu Qudamah berikut;
هي واجبة للأقربين الذين لا يرثون، وهو قول داود، وحكي ذلك عن مسروق وطاوس وإياس وقتادة وابن جرير، واحتجوا بالآية وخبر ابن عمر وقالوا: نُسِخَتْ الوصية للوالدين والأقربين الوارثين وبقيت فيمن لا يرث من الأقربين
Artinya: “Wasiat itu diwajibkan bagi kerabat nan tidak mendapat warisan. Ini adalah pendapat Dawud az-Zhahiri, dan juga diriwayatkan dari Masruq, Thawus, Iyās, Qatadah, dan Ibnu Jarir. Mereka beralasan dengan ayat Al-Qur’an dan sabda Ibnu Umar. Mereka beranggapan bahwa tanggungjawab wasiat bagi orang tua dan kerabat nan menjadi mahir waris telah dihapus, namun tetap bertindak bagi kerabat nan tidak termasuk mahir waris.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, (Beirut: Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1985,) Juz VI, laman 56)
Sementara itu, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa menurut jumhur ustadz (termasuk empat ajaran besar), wasiat kepada kerabat hukumnya sunnah, bukan wajib. Wasiat menjadi wajib hanya dalam perihal nan berangkaian dengan kewenangan Allah (seperti amal alias nazar) alias kewenangan manusia (seperti utang).
Namun, sebagian ustadz seperti Ibnu Hazm dan Abu Bakar bin Abd al-Aziz dari kalangan Hanbali beranggapan bahwa wasiat kepada orang tua dan kerabat nan terhalang dari warisan adalah wajib, baik secara kepercayaan maupun hukum. Pendapat inilah nan kemudian diadopsi dalam sistem norma Mesir dan Suriah. Syekh Wahbah menulis:
بُيِّنَتْ أَنَّ الوَصِيَّةَ لِلأَقَارِبِ مُسْتَحبَّةٌ عِنْدَ الجُمْهُور مِنْهُمْ أَئِمَّةُ المَذَاهِبِ الأَرْبَعَةِ وَلاَ تَجِبُ عَلَى الشَّخْصٍ إِلاَّ بِحَقٍّ للهِ أَوْ لِلْعِبَادِ. وَيَرَى بَعضُ الفُقَهَاءِ كَابْنِ حَزْمٍ الظَّاهِرِى وَأَبِى بَكْرٍ بْنِ عَبْدِ العَزِيْز مِنَ الحَنَابِلَةِ: أَنَّ الْوَصِيَّةَ وَاجِبَةٌ دِيَانَةٌ وَقَضَاءٌ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِيْنَ الذِيْنَ لاَ يَرِثُونَ لِحَجْبِهِمْ عَنِ المِيْرَاث… إِلَى أَنْ قَالَ: وَقَدْ أَخَذَ القَانُونُ المِصْرِ وَالسُّورِىِّ بِالرَّأيِ الثَانِى.
Artinya: “Telah dijelaskan bahwa wasiat kepada kerabat hukumnya sunnah menurut jumhur ulama, termasuk para pemimpin ajaran empat. Wasiat tidak wajib selain berangkaian dengan kewenangan Allah alias kewenangan sesama manusia.
Namun sebagian fuqaha seperti Ibnu Hazm az-Zhahiri dan Abu Bakar bin Abd al-Aziz dari kalangan Hanbali beranggapan bahwa wasiat wajib secara kepercayaan dan norma bagi orang tua dan kerabat nan terhalang dari warisan. Dan norma Mesir serta Suriah telah mengambil pendapat kedua ini.” (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz VIII, hal. 122)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalil wasiat wajibah mempunyai dasar kuat baik dari sisi nash maupun pandangan ulama. Walaupun jumhur ustadz menganggapnya sunnah, sebagian ustadz seperti Ibnu Hazm dan Abu Bakar bin Abd al-Aziz memandangnya wajib, terutama untuk menjaga keadilan dan silaturahmi di antara kerabat nan tidak memperoleh warisan.
Dalam konteks Indonesia, konsep wasiat wajibah menjadi solusi yuridis dan moral bagi kelompok-kelompok nan tidak tercakup dalam sistem waris Islam, seperti anak angkat dan mahir waris beda agama. Prinsipnya, Islam tetap menjunjung tinggi nilai kasih sayang dan keadilan sosial apalagi setelah seseorang meninggal dunia.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·