Ciri-ciri Plasenta Tidak Normal dan Bermasalah pada Kehamilan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Plasenta berkembang selama kehamilan untuk memberi nutrisi ke bayi. Namun, sejumlah ibu mengandung bisa mengalami plasenta tidak normal dan bermasalah pada kehamilannya. Kenali ciri-ciri plasenta nan tidak normal.

Plasenta semestinya menempel pada tembok rahim dan terhubung ke bayi melalui tali pusat. Namun, setiap ibu mengandung bisa mempunyai letak plasenta nan bervariasi.

Melansir laman BIDMC, normalnya plasenta menempel di bagian atas namalain samping rahim. Pada beberapa kasus, plasenta berkembang di letak nan salah namalain menempel terlalu dalam ke tembok rahim. Kelainan plasenta ini disebut dengan plasenta previa, plasenta akreta, plasenta inkreta, namalain plasenta perkreta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Plasenta tidak normal dan bermasalah

Gangguan plasenta biasanya didiagnosis dengan USG pada trimester kedua (sekitar 18 hingga 20 minggu setelah kehamilan). Jika terjadi insufisiensi plasenta, halangan pertumbuhan intrauterin, dan kondisi plasenta lainnya dapat menyebabkan masalah bagi ibu dan bayi.

Kapan plasenta terbentuk? Plasenta mulai terbentuk sekitar tujuh hingga 10 hari setelah sel telur nan telah dibuahi tertanam di dalam rahim.  Kemudian plasenta terus tumbuh sepanjang kehamilan.

Selain memberikan nutrisi, plasenta juga memberikan oksigen untuk janin.  Berikut beberapa kegunaan plasenta lainnya seperti dilansir laman Cleveland Clinic:

  • Membuang produk limbah rawan dan karbon dioksida dari bayi.
  • Menghasilkan hormon nan membantu pertumbuhan bayi.
  • Memberikan kekebalan dari ibu ke bayi.
  • Membantu melindungi bayi.

Ciri-ciri plasenta 

Melansir laman AAFP, plasenta biasanya berukuran diameter sekitar 22 cm dan tebal 2,0 hingga 2,5 cm. Umumnya beratnya sekitar 470 g (sekitar 1 lb). Namun, pengukurannya bisa sangat bervariasi, dan plasenta umumnya tidak ditimbang di ruang bersalin.

Permukaan ibu dari plasenta kudu berwarna merah marun gelap dan kudu terbagi menjadi lobulus namalain kotiledon. Strukturnya bakal tampak lengkap, tanpa kotiledon nan hilang. Permukaan plasenta janin kudu mengkilat, abu-abu, dan cukup tembus sinar sehingga warna jaringan vili merah marun di bawahnya dapat terlihat.

Bagaimana dengan plasenta nan tidak normal, seperti apa ciri-cirinya?

Plasenta bisa berkembang ketika telur nan dibuahi ditanamkan ke tembok rahim.  Alhasil, plasenta bisa menempel di bagian atas, bawah, namalain samping rahim. 

Beberapa posisi plasenta adalah:

  1. Plasenta posterior: Plasenta tumbuh di tembok belakang rahim.
  2. Plasenta anterior: Plasenta tumbuh di tembok depan rahim nan paling dekat dengan perut.
  3. Plasenta fundus: Plasenta tumbuh di bagian atas rahim.
  4. Plasenta lateral: Plasenta tumbuh di tembok kanan namalain kiri rahim.

Plasenta di posisi mana pun tetap dapat bergerak naik hingga sekitar 32 minggu kehamilan. Jika pada awal kehamilan diketahui plasenta menempel di bawah rahim, biasanya bergerak ke atas dan menjauhi leher rahim saat bayi bertambah besar.

Ibu mengandung nan mengalami gangguan namalain kelainan pada plasenta dapat menakut-nakuti jiwa Bunda dan janin. Penyebab gangguan namalain plasenta tidak normal itu macam-macam, termasuk merokok, minum beralkohol, serta mengonsumsi obat-obatan tertentu selama kehamilan. 

Ibu mengandung nan mengalami plasenta nan tidak normal dapat memandang dari gejala. Bumil segera konsultasikan ke master jika mengalaminya:

  • Sakit perut (perut) nan parah namalain sakit punggung
  • Pendarahan vagina
  • Kontraksi
  • Trauma apa pun pada perut , misalnya lantaran jatuh namalain kecelakaan mobil.

Berikut beberapa gangguan pada plasenta beserta ciri-cirinya dari beragam sumber:

1. Plasenta previa

Ciri nan tampak dari plasenta previa adalah menutupi seluruh namalain sebagian serviks. Kadang-kadang disebut plasenta dataran rendah.

Plasenta previa sering didiagnosis pada trimester ketiga, setelah terjadinya perdarahan memek berwarna merah cerah. Pendarahannya bisa berat namalain ringan, dan biasanya berhujung dengan sendirinya, silam kembali lagi dalam beberapa hari namalain minggu.

Kebanyakan wanita tidak merasakan sakit apa pun. Obgyn dapat mendiagnosis plasenta previa dengan USG rutin selama janji bertemu prenatal.

Jika plasenta ditemukan terletak rendah pada pemeriksaan USG rutin pada trimester kedua, maka perlu dilakukan pertimbangan lebih lanjut.

2. Plasenta akreta

Plasenta menempel terlalu dalam ke tembok rahim. Plasenta akreta dapat memburuk jika pembuluh darah membentur otot rahim (disebut plasenta inkreta), namalain jika pembuluh darah tersebut menembus tembok rahim (plasenta perkreta). 

Insiden plasenta akreta meningkat pada Bunda dengan riwayat persalinan sesar, operasi rahim lainnya, usia ibu nan sudah lanjut, graviditas tinggi, multiparitas, kuretase sebelumnya, dan plasenta previa.

Terdapat akibat perdarahan memek pada awal trimester pertama dan juga komplikasi kehamilan seperti akibat ketuban pecah dini, kelahiran prematur, insufisiensi plasenta, dan solusio plasenta. Hasil kehamilan bisa sangat buruk.

Namun pada plasenta previa, akreta, dan perkreta biasanya tidak mempunyai indikasi luar. Dokter dapat mengetahui kondisi ini selama USG rutin, MRI, namalain tes darah. 

Komplikasi dari kondisi ini dapat berupa perdarahan memek pada trimester ketiga, perdarahan postpartum parah, operasi caesar, dan histerektomi berikutnya.

3. Solusio plasenta

Suatu kondisi selama kehamilan nan ditandai dengan plasenta terpisah dari rahim terlalu dini.

4. Insufisiensi plasenta

Kondisi ini terjadi ketika plasenta tidak memberikan nutrisi namalain oksigen nan cukup untuk janin.

5. Retensi plasenta

Ini terjadi ketika bagian dari plasenta tetap berada di dalam rahim setelah kehamilan.

6. Intervillositis histiocytic kronis (CHI)

Kondisi ini sangat langka.  Laman Tommys menuliskan pada CHI, sistem kekebalan ibu mengandung bereaksi tidak normal terhadap kehamilan dan menyebabkan kerusakan pada plasenta. Kondisi tersebut meningkatkan akibat keguguran dan lahir mati. Sayangnya, CHI tidak mempunyai indikasi dan hanya dapat didiagnosis setelah kehamilan.

7. Vasa previa

Pada sebagian besar kehamilan, pembuluh darah dari tali pusat masuk langsung ke dalam plasenta. Namun pada vasa praevia, pembuluh darah ini tidak dilindungi tali pusar namalain jaringan plasenta.

Sebaliknya, pembuluh darah masuk ke jalan lahir, di bawah bayi. Pembuluh darah ini sangat halus. Jika robek saat Bunda melahirkan namalain saat ketuban pecah, ini dapat menyebabkan kehilangan darah. Bahayanya darah nan lenyap berasal dari bayi.

Biasanya tidak ada indikasi nan menandakan vasa previa, namun kondisi ini dapat dideteksi dengan sonogram dan USG Doppler setelah minggu ke-16.

Ibu mengandung dengan vasa previa terkadang mengalami pendarahan memek tanpa rasa sakit pada trimester kedua namalain ketiga.

Karena itu, ibu mengandung nan mengalami pendarahan memek kudu selalu melaporkannya ke penyedia jasa kesehatannya agar penyebabnya dapat diketahui dan tindakan apa pun nan diperlukan dapat diambil untuk melindungi bayinya.

Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya
Sumber Info Kesehatan Kincaimedia
Info Kesehatan Kincaimedia