Bahaya Semangat Kerjakan Amalan Sunah Tapi Tinggalkan Wajib

Sedang Trending 4 hari yang lalu
amalan sunahamalan sunah

–  Amalan sunah memang bisa melengkapi kekurangan pada ibadah nan wajib. Allah menganjurkan kita untuk menyempurnakan kekurungan nan ada pada ibadah nan wajib dengan ibadah sunahnya. Oleh lantaran itu kita sangat tidak diperkenankan untuk meremehkan hal-hal nan sunah. Atau sangat merasa cukup hanya lantaran sudah menunaikan ibadah wajib.

Namun demikian kita juga tidak boleh mengutamakan ibadah sunah dan mengabaikan nan wajib.  Bagaimanapun kondisinya, ibadah nan wajib lebih utama dari ibadah nan sunah. Hal ini bertindak pada ibadah ibadah apapun.

Lantas bagaimanakah jika terjadi kejadian nan mana seseorang terjerat indikasi lebh semangat mengerjakan ibadah sunah daripada nan sunah? Ibn ‘Athaillah as-Sakandari dalam karya tasawufnya nan masyhur, al-Hikam, menyatakan,

من علامة اتباع الهوى المسارعة الى نوافل الخيرات والتكاسل عن القيام بالواجبات

Jika kau lebih semangat mengerjakan yg sunah daripada nan wajib, maka itu adalah pertanda bahwa nan kau cari adalah kepuasan nafsumu (ingin dipuji), bukan keridaan Tuhanmu. (Hikmah Penciptaan Akal dan Hawa Nafsu bagi Manusia)

Jika nan ada adalah semangat mengerjakan ibadah sunah jauh lebih besar alias lebih antusias pada ibadah nan wajib, maka sesungguhnya dia sedang menunaikan kepuasan nafsu belaka, alias hanya dipuji oleh orang lain. Sebab jika mengerjakan ibadah hanya lantaran mengharap ridha Allah, maka dia mengerti mana nan kudu diutamakan dan mana nan pelengkap.

Karena itulah semestinya dia mengedepankan nan wajib sebelum melengkapi amalannya dengan nan berbobot sunah. Mau mengerjakan ibadah wajib alias sunah, krusial tidak berfokus pada penilaian dan pujian orang, karena nan demikian tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ridha Allah.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari  menyatakan bahwa siapa nan tersibukkan dengan nan wajib dari nan sunah dialah orang nan patut diberi udzur. Sedangkan siapa nan tersibukkan dengan nan sunah sehingga melalaikan nan wajib, maka dialah orang nan betul-betul tertipu.

Alangkah indahnya jika tetap memperioritaskan nan wajib daripada ibadah nan sunah. Tidak hanya indah, melainkan sikap nan mengutamakan dan tetap menjaga semangat saat mengerjakan ibadah wajib adalah satu langkah pandai agar kita tidak menjadi orang tertipu.

Jika setiap ibadah nan kerjakan hanya mau dipuji alias menunaikan kepuasan belaka, maka kelezatan ketaatan tak bakal pernah dirasakan dalam hidupnya, lantaran nan diharapkan bukanlah ridha Allah. Padahal dengan mengharap ridha Allah itulah nan menyebabkan kelezatan ketaatan bakal bisa dirasakan. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib , bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)

“Akan merasakan kelezatan/kemanisan ketaatan orang nan ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim)

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah